Cuma 20 Persen Pengaruh Global ke Ekonomi RI

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 14:31 WIB
Cuma 20 Persen Pengaruh Global ke Ekonomi RI Kemenko Kemaritiman mengungkapkan bahwa kebergantungan Indonesia terhadap ekonomi global hanya 20 persen, mengingat rasio ekspornya 20 persen. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kebergantungan Indonesia terhadap ekonomi global hanya 20 persen. Ia menilai isu-isu global, seperti perang dagang Amerika Serikat dengan China tidak signifikan mempengaruhi keuangan dalam negeri.

"Kita nggak usah terlalu khawatir dengan global ekonomi karena sebetulnya rasio ekspor kita ke PDB (Produk Domestik Bruto) hanya 20 persen. Artinya, hanya 20 persen lah ketergantungan kita pada global. Once (sekali), kita kendalikan domestik ekonomi, semua akan membaik," ujarnya, Kamis (6/9).

Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menuturkan saat ini pemerintah tengah mengkaji instrumen-instrumen ekonomi yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi domestik.


Pemerintah juga disebut tengah mencermati pasar untuk menghitung langkah yang perlu dilakukan agar tidak ada pihak yang mencoba mengeruk keuntungan pribadi.

"Dengan kelapa sawit biodiesel, kita mengurangi impor minyak mentah atau solar. Itu juga akan membuat ekonomi kita semakin bagus. Kita harus membuat balance (seimbang) antara ekspor dan impor," tegas Luhut.

Upaya lain, yaitu mengeluarkan aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk impor barang dan jasa. Tujuannya demi menghemat dolar dari barang-barang atau jasa yang terpaksa harus impor.


Selain itu, Luhut menambahkan pemerintah akan terus mendorong sektor pariwisata dan mengintegrasikan industri-industri lainnya demi penguatan rupiah. Dari sektor pariwisata, pemerintah berharap bisa menghasilkan 4,5 miliar dolar AS.

Tadi malam, Rabu (5/9), pemerintah menyisir daftar 1.147 barang impor yang dikenakan kenaikan Pajak Penghasilan (PPh). Kenaikan pajak dimulai dari 2,5 persen hingga 7,5 persen dan 10 persen demi menekan pelemahan rupiah lebih dalam lagi.

"Itu nilainya hampir 20 miliar dolar AS. Apa itu? Masa kita impor ikan, teh, kopi? Hal-hal yang kita bisa produksi sendiri. Nah, itu kami ingin take it out (keluarkan), sehingga bisa dikuatkan lagi, defisit akan membaik," pungkasnya.


(bir)