Inalum Bakal 'Gali Lobang Tutup Lobang' Beli Saham Freeport

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 15:16 WIB
Inalum Bakal 'Gali Lobang Tutup Lobang' Beli Saham Freeport Dirut PT Inalum Budi Gunadi Sadikin bersama Freeport Chief Executive Richard Adkerson saat menandatangani kesepakatan pengambilalihan kepemilikan saham, disaksikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Keuangan Sri Mulyani , Menteri BUMN Rini Suwandi, Menteri LHK Siti Nurabaya.(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum berencana menerbitkan surat utang atau obligasi global guna melunasi pinjaman bank yang ditarik dalam rangka mengambil alih saham PT Freeport Indonesia.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menjelaskan pinjaman pokok yang bakal ditarik pihaknya dari perbankan guna mengakuisisi Freeport Indonesia mencapai sekitar US$3,8 miliar dengan bunga berkisar 6 persen per tahun. Namun, pinjaman tersebut rencananya dilunasi dalam tempo satu hingga dua bulan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi global.

Menurut Budi, hal tersebut dilakukan guna meringankan beban arus kas perusahaan. Ia menjelaskan, jika tetap menggunakan pinjaman bank, kas perusahaan akan terbebani karena harus membayar cicilan pokok.


Sementara itu, skema utang dengan obligasi hanya mengharuskan perusahaan membayarkan bunga, sedangkan pokok utang dibayar saat jatuh tempo.

"Kalau obligasi, bayar pokok di belakang. Kami hanya membayar bunga," ujar Budi di Gedung DPR, Selasa (6/9).


Budi memperkirakan total pokok dan bunga pinjaman yang harus dibayarkan perseroan berkisar US$4 miliar. Inalum rencananya bakal menarik pinjaman sindikasi sejumlah bank asing yang dipimpin Bank of Tokyo Mitsubishi.

Meski nominal penerbitan obligasi cukup besar, ia menyebut Freeport Indonesia nantinya mampu mencetak laba bersih US$2 miliar per tahun usai tambah bawah tanahnya (underground) beroperasi.

Obligasi berdenominasi dolar AS tersebut rencananya diterbitkan tahun ini, tak lama setelah perjanjian pinjaman diteken. Sesuai target perusahaan, seluruh proses transaksi penjualan saham Freeport Indonesia rampung sebelum akhir tahun.


Rencananya, penerbitan obligasi akan dilakukan di Bursa Saham Singapura untuk menarik lebih banyak investor asing.

"Roadshow-nya sebentar lagi," ungkap Budi.

Budi belum mau menjabarkan detail rencana penerbitan obligasi, baik jangka waktu maupun bunga yang ditawarkan. Namun, ia memastikan bakal memilih yang paling murah.

Ia juga menjabarkan kondisi keuangan perusahaan dalam kondisi sehat. Per Juli 2018, total aset perusahaan telah mencapai Rp101 triliun. Total pendapatan bersih perusahaan mencapai Rp6 triliun atau naik dari posisi yang sama tahun lalu, Rp2,3 triliun.


Kemudian, total kas perusahaan tercatat Rp19,8 triliun, naik dari posisi akhir Desember 2017 yang mencapai Rp16,1 triliun. Adapun rasio utang terhadap modal (DER) tercatat 22,2 persen, menanjak dari posisi Desember 2017 yang tercatat 21,2 persen.

Sesuai kesepakatan yang ditandatangani oleh pemerintah dengan Freeport-McMoRan Inc pada 12 Juli lalu, Inalum akan membeli saham Freeport Indonesia dengan nilai US$3,85 miliar atau sekitar Rp55,4 triliun.

Sebesar US$3,5 miliar di antaranya digunakan untuk membayar hak partisipasi Rio Tinto di tambang Grasberg Freeport Indonesia yang akan dikonversi menjadi saham. Sementara itu, US$350 juta sisanya digunakan untuk membeli saham Indocopper di Freeport Indonesia, yang sepenuhnya dimiliki oleh Freeport-McMorran. Setelah proses transaksi rampung, total kepemilikan sahan Inalum di Freeport Indonesia akan menjadi 51,23 persen. (agi/bir)