Pemerintah Tetap Paksa Freeport Serap Biodiesel Pertamina

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 08:35 WIB
Pemerintah Tetap Paksa Freeport  Serap Biodiesel Pertamina Pemerintah akhirnya mencabut pembebasan penggunaan campuran biodiesel sebanyak 20 persen pada BBM jenis Solar (B20) untuk PT Freeport Indonesia. (REUTERS/Muhammad Yamin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah akhirnya mencabut pembebasan penggunaan campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biodiesel sebanyak 20 persen pada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar (B20) untuk PT Freeport Indonesia.

Artinya, kini Freeport juga harus menyerap produksi B20 dari PT Pertamina (Persero).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan pencabutan pembebasan penggunaan B20 ini dilakukan setelah pemerintah melihat hasil audit teknologi peralatan dan kondisi lapangan Freeport.



Dari hasil audit perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) itu rupanya bisa menggunakan B20 untuk kegiatan produksi di kawasan yang memiliki suhu udara yang lebih hangat atau setidaknya kurang dari minus 3 derajat celcius.

Meski, untuk kawasan produksi dengan suhu setara minus 3 derajat celcius atau lebih dingin dari minus 3 derajat celcius tidak bisa menggunakan B20, sehingga tetap dikecualikan.

"Karena memang (kawasan dengan suhu lebih dingin dari minus 3 persen celcius) tidak bisa pakai B20, nanti jadi beku," ucap Djoko di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (3/9).


Berdasarkan hitung-hitungan sementara dalam rapat koordinasi di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Freeport setidaknya bisa menyerap B20 sekitar 18 juta kiloliter (KL) mulai bulan ini sampai akhir tahun.

Djoko menjelaskan angka ini berasal dari total kebutuhan BBM jenis Solar Freeport yang sekitar 30 ribu KL per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 15-20 persen di antaranya digunakan untuk kawasan dengan suhu hangat atau kurang dari minus 3 derajat celcius.

Artinya, Freeport bisa mengganti kebutuhan BBM jenis Solar untuk kawasan itu dengan B20 dengan volume sekitar 4,5-6 ribu KL per bulan. Dengan begitu, sampai akhir tahun setidaknya Freeport bisa menyerap B20 dari Pertamina mencapai 18-24 ribu KL.

Meski begitu, pemerintah terus memastikan hitungan penyerapan B20 oleh Freeport. Sebab, menurut hitungan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana, perusahaan yang beroperasi di tambang Grasberg di Papua itu, bisa menyerap sekitar 15 ribu KL sampai akhir tahun.


"Ini targetnya mulai diserap dalam 1-2 minggu ini. Tapi ke depannya, harus diaudit lagi," katanya.

Menurutnya, hitungan penggunaan B20 oleh Freeport pada tahun depan bisa berubah karena bisa perusahaan mengganti penggunaan teknologi untuk peralatannya. Sehingga, cocok bila menggunakan B20.

Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina Gandhi Sriwidodo mengatakan rencananya perusahaan pelat merah itu akan memasok B20 untuk Freeport dari depo terminal yang berlokasi di Timika, Papua. (lav/lav)