RI 'Dijagokan' Sebagai Eksportir Mobil Listrik ke Australia

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 18:49 WIB
RI 'Dijagokan' Sebagai Eksportir Mobil Listrik ke Australia Ilustrasi mobil listrik. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan mengklaim Indonesia akan diutamakan untuk mengekspor mobil listrik dan mobil hibrida ke Australia, setelah kerja sama ekonomi komprehensif antara RI dengan Australia (IA CEPA) ditandatangani November 2018 mendatang.

Ni Made Ayu Marthini, Direktur Perdagangan Bilateral Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan mengatakan keistimewaan ini tercermin dari syarat Qualifying Value Content (QVC) produk mobil listrik dan mobil hibrida yang lebih rendah ketimbang negara-negara lainnya.

QVC adalah perhitungan nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Di dalam IA CEPA, Australia memperbolehkan Indonesia mengekspor mobil listrik dan hibrida dengan QVC sebesar 35 persen. Padahal, Australia mematok syarat QVC kepada negara lain sebesar 40 persen.



"Jadi, kami bisa dapat lebih baik untuk ekspor electric dan hybrid, ini yang tidak didapat negara lain ketika mengekspor produk otomotifnya ke Australia. Jadi, produk Indonesia bisa bersaing," ujarnya di kantornya, Jumat (7/9).

Lebih lanjut ia menuturkan keistimewaan ini tidak diberlakukan bagi ekspor mobil biasa ke Indonesia. Made menerangkan Australia masih membebankan nilai QVC sebesar 40 persen bagi impor mobil konvensional asal Indonesia.

Namun menurutnya, tetap saja keistimewaan ini adalah peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor otomotif. Apalagi, tren pasar otomotif dunia ke depan akan bergerak dari mobil bertenaga bahan bakar fosil menuju bahan bakar ramah lingkungan.

"Kami hanya ingin dapat deal (kesepakatan) yang baik di masa depan dan kami menganggap bahwa Australia adalah mitra terbaik untuk mobil listrik," imbuhnya.


Di samping itu, pemerintah Indonesia juga akan mendorong Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk bermitra dengan perusahaan Australia untuk membuat investasi manufaktur otomotif di Australia, mengingat Australia unggul dari sisi suku cadangnya.

"Dan nanti ini agar ada rules (peraturan) yang dibuat oleh kedua negara, sehingga pelaku bisnis antara dua negara bisa berjalan," papar dia.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa ekspor mobil tahun lalu 231,2 ribu ini meningkat 18,94 persen dibanding tahun sebelumnya 194,4 ribu unit. Sementara itu, produksi mobil di tahun lalu tercatat 1,21 juta unit. (bir)