Indef Kritik Sikap Oposisi soal Politisasi Rupiah

Setyo Aji, CNN Indonesia | Sabtu, 08/09/2018 15:54 WIB
Indef Kritik Sikap Oposisi soal Politisasi Rupiah Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Instute For Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira meminta agar pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jangan ditarik ke ranah politik karena dapat memberikan sentimen negatif.

Dia mengatakan perdebatan soal isu melemahnya rupiah ramai di media sosial dan media massa, sehingga bikin politikus berlomba-lomba berkomentar mengenai isu itu.

"Tadi ada komentar soal sosial media, ini bikin ribut, bikin sentimen-sentimen jadi negatif," ujar dia di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (8/9).



Bhima mengingatkan oposisi untuk tidak bermain-main dengan pelemahan rupiah di ranah politik, dengan memanfaatkan isu itu untuk menyalahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Sebelumnya, Partai Gerindra menyatakan pengkhianat sejati adalah otoritas yang melakukan kesalahan sehingga rupiah melemah. Di sisi lain, Menko Maritif Luhut Pandjaitan menegaskan politisasi rupiah adalah pengkhianatan terhadap negara.

"Kita jangan memain-mainkan politik untuk currency ini karena dampaknya pada semua rakyat kecil. Jadi kalau semua itu orang melakukan [politisasi rupiah] itu saya kira itu pengkhianatan pada negara," kata Luhut.

Tak hanya itu, Prabowo-Sandiaga juga tadi malam menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi melakukan kekeliruan dalam orientasi pembangunan sehingga rupiah kian melemah.

Padahal, kata Bhima, pelemahan rupiah ini faktornya sangat struktural dan fundamental, bukan semata-mata karena kesalahan rezim Jokowi. Bhima menegaskan oposisi bakal terkena imbasnya apabila terus menari-nari di atas pelemahan rupiah saat ini.


"Kalau oposisi terus mengibasi bara api ini, apa enak jika pihak oposisi menang 2019 rupiah berada di level Rp15 ribu. Saat berkuasanya apa nyaman juga? Jadi kita ingin lebih calm down lah," kata Bhima.

Oposisi kata, Bhima harusnya memberikan kritik yang bersifat konstruktif agar tidak terus memberikan sentimen negatif dan menciptakan ketenangan di masyarakat.

Tak Perlu Komentar

Di sisi lain, lanjut Bhima pihak pemerintah juga tidak perlu banyak berkomentar dan justru memberikan sentimen negatif.

Misalnya saja mantan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo yang memprediksi rupiah tertekan pada Mei lalu. Pernyataan itu, kata dia, justru membuat pelaku pasar berspekulasi.

"BI ini kok malah ngeluarin pernyataan yang membuat orang berspekulasi. Seperti orang berpikir jadi melakukan impor lebih cepat atau ngumpulin dolar karena takut itu bebar terjadi," terangnya.


Selain itu, OJK juga pernah mengeluarkan pernyataan soal stress test rupiah hingga level Rp20 ribu. Hal ini justru membuat persepsi pasar bahwa rupiah bakal melemah terus menerus.

"Orang itu tidak lihat perbankan amannya, tapi yang dilihat Rp 20.000 Harusnya stress test tidak boleh diumumkan," ujarnya.

Tonton juga video: Dolar AS Kuat dari Rupiah, Harga Elektronik Melambung
[Gambas:Video CNN]


(asa)