Ari Askhara, Dari Pelindo III Terbang ke Garuda Indonesia

agt, CNN Indonesia | Rabu, 12/09/2018 19:20 WIB
Ari Askhara, Dari Pelindo III Terbang ke Garuda Indonesia Ari Askhara ditunjuk jadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang baru menggantikan Pahala Mansury. (Dok. Pelindo via www.pelindo.co.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) resmi mengangkat I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau yang lebih dikenal dengan Ari Askhara menjadi direktur utama BUMN penerbangan tersebut. Ia ditunjuk menggantikan Pahala Mansury.

Seperti apa sosok Ari?

Ia sebenarnya bukan orang baru di tubuh Garuda. 
Lelaki kelahiran 13 Oktober 1971 itu pernah menjadi direktur keuangan dan manajemen risiko Garuda.



Alumnus S1 Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada dan S2 Administrasi Bisnis Jurusan International Finance Universitas Indonesia (UI) tersebut pernah juga menduduki jabatan penting di sejumlah BUMN.


Pertama, direktur pengembangan sistem PT Wijaya Karya (Persero). Kedua, direktur keuangan PT Pelindo III (Persero).
Di luar BUMN, Ari juga pernah menjabat Head of Natural Resources ANZ Bank Indonesia.


Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengatakan 
perombakan direksi Garuda, termasuk penunjukkan Ari, dilakukan demi meningkatkan kinerja perusahaan.

"Kami melihat, ke depan ini challenge-nya, apa saja. Seperti Garuda, tantangannya itu apa saja, keahlian yang dibutuhkan Garuda itu apa," katanya usai menghadiri konferensi pers di Soehana Hall Energy Building, Rabu (12/9).

Saat ditanya oleh awak media apakah perombakan direksi Garuda karena tekanan dari serikat pekerja, Rini mengungkapkan perombakan direksi perusahaan pelat merah lazim dilakukan untuk menyesuaikan keahlian pimpinan dengan kebutuhan perusahaan terkait.

Selain Pahala, perombakan juga terjadi untuk jabatan Direktur Keuangan, Direktur Niaga Domestik, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha.

Secara terpisah, Pahala mengatakan selama 17 bulan menjabat sebagai direktur utama kinerja Garuda Indonesia sudah mulai membaik. Misalnya, tingkat kerugiannya yang menurun.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, perusahaan tercatat menderita kerugian sebesar US$114 juta pada semester I 2018 atau melorot dibandingkan kerugian periode yang sama tahun lalu, yakni US$284 juta. Kerugian perusahaan membaik karena kenaikan pendapatan sebesar dari US$1,8 miliar menjadi US$1,9 miliar.
(agt/bir)