Moody's: Empat Perusahaan Indonesia Rentan Terdampak Rupiah

Agustiyanti, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 14:11 WIB
Moody's: Empat Perusahaan Indonesia Rentan Terdampak Rupiah Ilustrasi utang. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga pemeringkat internasional Moody's menyebut empat perusahaan Indonesia rentan terhadap pelamahan rupiah jika pelemahannya terus berlanjut. Keempat perusahaan tersebut, yakni; PT Lippo Karawaci Tbk, PT Alam Sutera Realty Tbk, PT MNC Investama Tbk, dan PT Gajah Tunggal Tbk.

Moody's juga menilai kondisi fundamental ekonomi dan kebijakan pemerintah Indonesia saat ini masih mampu menahan risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Alhasil, pelemahan lebih lanjut dikhawatirkan dapat menimbulkan efek negatif karena ketergantungan pemerintah dan korporasi pada utang luar negeri.

"Dalam beberapa tahun terakhir, pembuat kebijakan telah membentuk kebijakan moneter yang kredibel untuk mengurangi eksposur perusahaan terhadap fluktuasi mata uang. Tetapi
penurunan cepat dalam cadangan devisa memperlihatkan semakin terbatasnya bantalan, "kata Joy Rankothge, Vice President and Senior Analyst Moody's seperti dikutip Kamis (13/9).

Saat ini, menurut dia, pelemahan rupiah masih memiliki dampak terbatas pada posisi utang Indonesia. Namun, pelemahan lebih lanjut akan meningkatkan beban pokok dan biaya pembayaran utang.

Di sisi lain, jika tidak diatasi pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan tekanan pada inflasi. "Profil utang korporasi yang melemah dan kualitas aset bank yang menurun juga dapat mengurangi investasi dan pertumbuhan ekonomi, "kata Rankothge.


Rupiah telah terdepresiasi lebih dari 9 persen sejak Februari, meski sebenarnya masih lebih baik dari sejumlah mata uang lain. Depresiasi mata uang juga telah membuat impor Indonesia membengkak, salah satunya didorong impor barang modal untuk proyek infrastruktur dan kenaikan harga minyak.

Selama paruh pertama tahun 2018, defisit neraca berjalan Indonesia meningkat menjadi 2,6 persen dari PDB, dari posisi tahun lalu sebesar 1,4 persen.Selain itu, cadangan devisa di bawah tekanan akibat intervensi bank sentral untuk terus mendukung rupiah dari US$125 miliar pada Januari menjadi US$111,7 miliar pada Agustus 2018.

(agi/agt)