Sempat Naik, Rupiah Berbalik Melemah ke Rp14.840 per Dolar AS

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 17:06 WIB
Sempat Naik, Rupiah Berbalik Melemah ke Rp14.840 per Dolar AS Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.840 per dolar AS atau melemah 8 poin pada perdagangan sore hari ini, Kamis (13/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.840 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pada sore ini, Kamis (13/9). Rupiah melemah 8 poin atau 0,05 persen pada hari ini dibandingkan pergerakan kemarin, Rabu (12/9), pada posisi Rp14.832 per dolar AS.

Pegerakan rupiah berbalik arah, setelah pagi tadi dibuka menguat di Rp14.810 per dolar AS dan sempat bergerak ke kisaran Rp14.700 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.794 per dolar AS atau menguat dari posisi kemarin di Rp14863 per dolar AS.


Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama yen Jepang yang minus 0,17 persen. Sedangkan, dolar Hong Kong, peso Filipina, dan dolar Singapura stagnan.

Sementara, mata uang lainnya menguat, renminbi China 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,07 persen, baht Thailand 0,25 persen, won Korea Selatan 0,54 persen, dan rupee India 0,7 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, poundsterling Inggris menguat 0,04 persen, franc Swiss 0,07 persen, dolar Australia 0,13 persen, dan rubel Rusia 0,59 persen. Sedangkan dolar Kanada melemah 0,11 persen dan euro Eropa minus 0,1 persen.

Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah hari ini terjadi karena beberapa sentimen eksternal kembali datang dan menutup sentimen positif dari dalam negeri yang semula berhasil menguatkan rupiah.


Sentimen eksternal itu datang dari bank sentral Eropa (The European Central Bank/ECB) yang kemungkinan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunganya. Kemudian, kelanjutan perang dagang antara AS-China.

"Ada informasi, Presiden AS Donald Trump akan tetap memberlakukan tarif impor untuk China, meski China ingin melawan dengan melaporkan AS ke WTO," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/9).

Selain itu, rencana kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve juga kemungkinan akan tetap sesuai dengan jadwal mereka, yaitu pada minggu depan.


(bir)