Kantongi Izin Mendag, Bulog Kekeh Tak Perlu Impor Beras Lagi

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 14/09/2018 14:55 WIB
Kantongi Izin Mendag, Bulog Kekeh Tak Perlu Impor Beras Lagi Gudang Beras Bulog. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menyebut stok beras di gudang saat ini mencukupi sehingga tak lagi perlu mengimpor meski mengantongi izin tambahan satu juta ton dari Kementerian Perdagangan

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan tak perlu impor karena jumlah pasokan beras di gudang Bulog hingga awal September masih sekitar 2,4 juta ton. Bahkan, ia mengestimasi jumlah pasokan akan bertambah menjadi 3 juta ton pada akhir tahun yang berasal dari dalam negeri.

"Boleh kata ada perintah (impor) sampai 1 miliar ton pun kepada saya sebagai pelaksana, tapi saya harus tahu persis kebutuhan dan situasinya seperti apa, perlu atau tidak. Insyaallah, perhitungan saya sampai akhir tahun tidak perlu impor," ucap Buwas, sapaan akrabnya, Jumat (14/9).


Saat ini, menurut dia, gudang Bulog sudah cukup penuh. Jika tetap mengimpor, pihaknya justru akan kerepotan dan harus menyewa gudang untuk menampung beras tersebut.

"Perintah kemarin dari Menteri Koordinator Perekonomian (Darmin Nasution) dan Menteri Perdagangan (Enggartiasto Lukita) bahwa kami harus impor 1 juta ton, tapi kami mau taruh di mana beras itu? Kecuali Menteri Perdagangan menyiapkan gudang atau kantornya beliau mau dipakai jadi gudang beras," ungkap dia. 


Bahkan, ia mengestimasi dengan potensi pasokan beras sampai 3 juta ton pada akhir tahun, justru Indonesia bisa mulai mengekspor beras pada tahun depan. "Insyaallah, justru jangan-jangan tahun depan bisa ekspor," celetuknya.

Senada, Amran juga memastikan pasokan beras di dalam negeri cukup hingga akhir tahun meski Indonesia tengah mengalami musim kemarau. "Sekarang harus gunakan paradigma baru, dengan teknologi baru, kami dapat meningkatkan tanam di musim kering yang biasanya hanya 500 ribu hektar menjadi 1 juta hektar. Naik dua kali lipat pada saat musim kering," tuturnya.

Lebih lanjut, Amran mengklaim peningkatan produktivitas petani di kala musim kemarau lantaran berbagai infrastruktur penunjang juga sudah dibangun pemerintah, seperti saluran irigasi hingga pembagian pompa.

"Kami terima laporan dari Cipinang, kemarin masuk stok 47 ribu ton. Padahal biasanya Januari-Februari itu hanya 15-20 ribu ton. Artinya apa? Itu dua kali lipat daripada normal," tekannya.


Sementara itu, Menteri Pedagangan Enggartiasto menegaskan kesepakatan tambahan impor satu juta ton diputuskan dalam rapat koordinasi di kantor Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution karena memperkirakan bakal terjadi kemarau panjang yang mengganggu produksi nasional. Rapat pada 12 April lalu, juga dihadiri Darmin, Amran, dan Dirut Bulog yang saat itu dijabat Djarot Kusumayakti.

"Itu (impor tambahan) sebenarnya rencananya Juli masuk. Tapi karena prosesnya panjang, Dirut Bulog meminta perpanjangan izin impor. Kami perpanjang. Lalu mereka minta perpanjangan kedua," ujar Enggar saat berkunjung ke kantor Transmedia, Rabu (13/9).

Menurut Enggar, Bulog yang sudah berganti kepemimpinan ke tangan Budi Waseso justru dua kali meminta izin perpanjangan impor beras. Surat perpanjangan diajukan pada 13 Juli 2018 dan 23 Agustus 2019.

"Pak Buwas sendiri menandatangani permohonan perpanjangan izin impor (tambahan impor beras satu juta ton)," ungkap Enggar.

Menurut Enggar, stok bulog saat ini memang mencapai sekitar 2,4 juta ton. Namun, sekitar 811 ribu merupakan pasokan dalam negeri, sedangkan sisanya berasal dari impor sebelumnya.

"Kalau tidak impor sebelumnya, stok beras Bulog sebenarnya di bawah satu juta ton," tegas Enggar. (agi)