Kementerian ESDM: Konservasi Energi Tak Sekadar Hemat Energi

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 14:02 WIB
Kementerian ESDM: Konservasi Energi Tak Sekadar Hemat Energi Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengungkapkan konservasi energi tidak hanya sekadar untuk menghemat energi fosil, tetapi juga menjaga lingkungan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan konservasi energi tidak hanya sekadar untuk menghemat energi fosil yang tak dapat diperbarui, tetapi juga menggunakan energi baru terbarukan (EBT) agar lebih ramah lingkungan.

"Target kami sudah ada, pada 2030 kami ingin menurunkan (emisi karbon) sebesar 17 persen," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana saat menghadiri 2nd Indonesia Energy Efficiency and Conservation Conference & Exhibition (IEECCE) 2018 Global Energy Transformation di Balai Kartini, Selasa (18/9).

Seperti pernah diungkap sebelumnya, pemerintah juga ingin meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi menjadi 23 persen pada 2025. Saat ini, porsinya masih di bawah 15 persen.



Tak hanya itu, mulai 2025, pemerintah juga ingin mengurangi intensitas energi yang menjadi parameter untuk mengukur efisiensi sebesar 1 persen per tahun dan mencapai elastisitas energi kurang dari satu.

Intensitas energi merupakan jumlah konsumsi energi per Produksi Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Semakin rendah angka intensitas energi, semakin efisien penggunaan energi disebuah negara.

Di Indonesia, lanjut Rida, kesadaran masyarakat akan konservasi energi masih minim. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pemerintah terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain itu, lanjut Rida, pemerintah juga mengatur ketentuan manajemen energi untuk perusahaan. Pemerintah juga bekerja sama dengan lembaga internasional.


"Kami ingin agar lebih mengarusutamakan semua pihak (untuk meningkatkan konservasi energi) karena selama ini orang belum begitu sadar," jelasnya.

Kepala Bidang Efisiensi Badan Energi Internasional (EIA) Brian Motherway mengungkapkan tingkat investasi untuk efisiensi energi masih di bawah investasi di sektor pembangkit energi terbarukan.

EIA memperkirakan pertumbuhan investasi global di bidang efisiensi energi harus tumbuh hampir US$600 miliar per tahun antara sekarang hingga 2025 dan menjadi hampir US$1,3 triliun per tahun antara 2026 hingga 2040.


"Investasi tersebut akan terbayar oleh penghematan energi dan munculnya kegiatan ekonomi bernilai tinggi dan keuntungan bagi pengembangan sosial," ujar Motherway dalam sambutan tertulisnya untuk IEECE, dikutip Selasa (18/9).

Dalam konteks Indonesia sebagai negara yang perekonomian sedang melaju kencang, efisiensi energi diperlukan mengingat terdapat 20 persen tambahan konsumsi energi di Indonesa selama periode 2000 hingga 2017. Kelebihan energi itu berasal dari pembangkit listrik yang sebenarya tidak diperlukan dan polusi yang ditimbulkan.

Menurut Motherway, beberapa alternatif kebijakan bisa diambil untuk meningkatkan pemanfaatan energi ke depan. Misalnya, kewajiban stadar pemanfaatan energi dan penggunan teknologi baru untuk meningkatkan efisien dan keuntungan bagi masyarakat. (sfr/lav)