Kementerian ESDM Ungkap 'Biang Kerok' Defisit Sektor Migas

Tim, CNN Indonesia | Senin, 17/09/2018 17:26 WIB
Kementerian ESDM Ungkap 'Biang Kerok' Defisit Sektor Migas Kementerian ESDM menyebut defisit neraca dagang sektor migas pada Agustus 2018 terjadi karena perlambatan ekspor dan penurunan produksi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan penyebab defisit neraca dagang sektor minyak dan gas (migas) pada Agustus 2018.

Dari sisi ekspor, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengakui terjadi perlambatan ekspor karena blok yang sebelumnya dikelola asing, yaitu Blok Mahakam, diambil alih PT Pertamina (Persero), sehingga produksinya langsung diserap di dalam negeri. Tahun lalu, Blok Mahakam masih dikelola Total E&P.

"Kedua, (penyebab perlambatan ekspor) penurunan produksi (minyak) sekitar 30 ribu barel per hari (bph) ," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Senin (17/9).


Sementara, impor meningkat tajam karena laju kegiatan ekonomi semakin kencang. Misalnya, di sektor tambang yang menggunakan solar, produksinya meningkat 20 persen dibanding tahun lalu.

Di tempat yang sama, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkap neraca perdagangan migas pasti defisit, mengingat hingga kini produksi minyak dalam negeri hanya di kisaran 790 ribu hingga 800 ribu bph. Sedangkan, konsumsinya mencapai 1,3 juta hingga 1,4 juta bph.


Meskipun defisit migas melebar, kenaikan harga minyak mendongkrak sumbangan sektor migas ke penerimaan negara.


Sebagai catatan, tahun lalu, rata-rata harga minyak mentah Indonesia di bawah US$50 per barel. Tahun ini, sudah hampir mencapai US$70 dolar per barel.

Kementerian ESDM memperkirakan penerimaan sektor pertambangan dan migas pada tahun ini bisa mencapai Rp240 triliun, di atas pengeluaran subsidi sektor energi yang mencapai US$150triliun.

Di sektor migas, penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp200 triliun atau lebih tinggi dari proyeksi di APBN 2018 yang hanya sebesar Rp156 triliun.


"Sebenarnya, surplus penerimaan migas dan minerba di APBN 2018 dibanding subsidi energi total Rp 62 triliun, sekarang malah Rp 91 triliun. Memang kalau neraca perdagangan masih minus karena impor tinggi, dan ekspornya tinggi, tapi masih kalah secara nilai," imbuh Jonan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan di sektor migas sepanjang Agustus 2018 lalu mencapai US$1,66 miliar, melebar dari periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar US$0,66 miliar. Angka itu lebih besar dari total defisit dagang pada periode yang sama yang mencapai US$1,02 miliar.

Impor migas sepanjang bulan lalu melonjak 51,43 persen secara tahunan menjadi US$3,05 miliar. Sementara, ekspor migas cuma naik 12,24 persen menjadi US$1,38 miliar.


Secara akumulasi, defisit migas sepanjang Januari-Agustus 2018 mencapai US$8,35 miliar atau meningkat 54,63 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni US$5,4 miliar. (sfr/bir)