REKOMENDASI SAHAM

Saham Sandiaga dan Erick Thohir Diramal Beri Untung Sesaat

Tim, CNN Indonesia | Senin, 24/09/2018 09:59 WIB
Saham Sandiaga dan Erick Thohir Diramal Beri Untung Sesaat Ilustrasi memotret pergerakan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dinamika politik terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kian terasa. Apalagi, kini masing-masing kubu calon pasangan presiden dan wakil presiden telah mengantongi nomor urut. Perkembangan pesta demokrasi tahun depan pun disinyalir akan mempengaruhi pergerakan beberapa saham yang bersinggungan langsung dengan politikus.

Maklum, sejumlah figur politik juga memiliki bisnis atau investasi saham di perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dua nama politikus yang populer di dunia bisnis, misalnya; Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Sandiaga Uno kini menjadi calon wakil presiden yang berpasangan dengan calon presiden Prabowo Subianto.

Sementara, Erick Thohir merupakan ketua tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Saat ini, Sandiaga memiliki saham di berbagai perusahaan, seperti PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).


Dalam laporan bulanan perusahaan per Agustus 2018 kepada BEI, Sandiaga termasuk salah satu pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sebesar 27,79 persen. Saratoga Investama Sedaya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang investasi yang fokus pada sektor konsumsi, infrastruktur, dan sumber daya alam (SDA).

William Hartanto, Analis Panin Sekuritas mengatakan nama Sandiaga juga kerap dihubung-hubungkan dengan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Provident Agro Tbk (PALM), dan PT Mitra Pinashtika Mustika Tbk (MPMX). Menurut William, Sandiaga memiliki saham tersebut melalui Saratoga Investama Sedaya. Jadi, tidak langsung seperti masuk ke saham Saratoga Investama Sedaya.

Sementara, nama Erick Thohir memiliki kaitan dengan saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) dan PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI). Erick merupakan Komisaris Utama pada kedua perusahaan tersebut sekaligus pemegang saham pengendali. "Ini semua bisa dimanfaatkan untuk perdagangan (trading) jangka pendek sepanjang pesta politik," ungkap William kepada CNNIndonesia.com, Senin (23/9).

Secara historis, kata William, saham yang memiliki kaitan dengan politikus akan menguat jelang pesta demokrasi selevel pilpres. Meski memang, tidak semua saham tersebut memiliki fundamental positif.

"Ada juga sebenarnya tidak liquid seperti Mitra Pinashtika Mustika dan Provident Agro. Tapi tetap bisa untuk trading jangka pendek," sambung William. Khusus untuk Mahaka Media, sahamnya kini sedang diberhentikan sementara (suspensi) oleh BEI karena harga sahamnya yang meningkat tajam belakangan ini.

Terpantau, sepanjang Juni-Agustus 2018 harga saham Mahaka Media masih berada di level Rp50 per saham. Namun, sejak namanya mencuat sebagai Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf Amin, harga saham Mahaka Media per 10 September 2018 langsung menanjak.
Bahkan, kini harga sahamnya sudah tembus Rp100 per saham. Pada perdagangan 18 September 2018 harga saham Mahaka Media bahkan berada di level Rp195 per saham."Ketika suspensi sudah dibuka masih disarankan untuk melakukan transaksi beli karena secara sektornya sedang bagus," terang William.

Dari sentimen Pilpres 2019, William memprediksi dalam pekan ini saham Adaro Energy mengarah ke level Rp2.000 per saham, Provident Agro naik ke level Rp270 per saham, dan Mitra Pinasthika Mustika naik ke level Rp1.000 per saham.

Kemudian, Saratoga Investama Sedaya diperkirakan naik ke level Rp4.500 per saham dan Mahaka Radio Integra menyentuh level Rp300 per saham. Di sisi lain, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai pelaku pasar juga perlu hati-hati terhadap saham milik politikus, seperti Mahaka Media dan Saratoga Investama Sedaya.

"Saya lebih cenderung menunggu (wait and see) dan melihat pergerakan harga saham selanjutnya dalam beberapa periode tertentu," tandas Nafan.

Sebelumnya, ia sempat menargetkan saham Mahaka Media mencapai level Rp186 per saham. Namun, karena level itu sudah terlewati, ia tak lagi menyarankan aksi beli (buy) kepada pelaku pasar terhadap saham Mahaka Media.

Cuan dari Saham Sektor Media

Tak hanya saham yang memiliki kaitan langsung dengan politikus yang bisa memberikan keuntungan bagi pelaku pasar jelang pilpres 2019.  Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan pelaku pasar juga bisa mencermati saham yang bergerak di sektor media, yakni PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

"Perusahaan media yang paling siap dengan bauran produk akan sangat diuntungkan," kata Valdy.

Hal ini karena penonton televisi dan pembaca berita melalui portal berita akan meningkat, sebab masyarakat ingin mengetahui perkembangan berita mengenai pilpres 2019. Ia menerangkan perilaku masyarakat kini sudah berubah. Masyarakat tak hanya mendapatkan berita dari televisi saja, tetapi juga dari portal berita.

Makanya, kinerja perusahaan media yang memiliki bisnis di televisi dan portal berita berpotensi lebih baik di tengah keingintahuan masyarakat tentang dinamika politik. "Biasanya saham-saham media ini akan cenderung menguat ketika ada gelaran agenda tertentu yang memerlukan coverage pemberitaan," ujar Valdy.

Pada Jumat (21/9), harga saham Media Nusantara Citra berakhir negatif di level Rp860 per saham. Sebaliknya, saham Surya Citra Media naik 1,06 persen di level Rp1.900 per saham.

"Media Nusantara Citra (pekan ini) menguji kisaran Rp900 per saham, Surya Citra Media menguji level Rp1.950-Rp1.980 per saham," jelas Valdy.

William menambahkan, kinerja keuangan emiten berbasis media juga akan meningkat dengan tambahan iklan berbau kampanye politik di televisi dan portal berita.

"Itu kan cara terbaik kampanye yang tidak membuat biaya besar dibandingkan dengan kampanye di lapangan," ujar William.

Ia juga merekomendasikan saham PT Visi Media Asia (VIVA) dan PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI). Menurutnya, saham Visi Media Asia bisa menguat ke level Rp160 per saham dari posisi terakhir di level Rp145 per saham.

"Untuk Arkadia Digital Media masih bisa menguat sampai auto rejection (lagi)," tandas William.

Auto rejection adalah batas maksimal dan minimal persentase untuk naik dan turunnya harga saham dalam satu hari perdagangan bursa. BEI membedakan batasan ini dengan tiga fraksi saham.

Untuk fraksi saham Rp50-Rp200 per saham, maka batas naik dan turunnya saham per hari sebesar 35 persen. Kemudian, fraksi saham Rp200-Rp5.000 per saham batasnya naik dan turunnya sebesar 25 persen. Sementara, batas naik dan turun untuk fraksi saham di atas Rp5.000 per saham adalah 20 persen.

Arkadia Digital Media merupakan perusahaan yang baru melantai di BEI pada 18 September 2018 kemarin. Pada perdagangan perdananya, saham perusahaan langsung melonjak 70 persen ke level Rp340 per saham. Makanya, saham tersebut langsung terkena auto rejection.

Adapun, pada akhir pekan lalu harga saham Arkadia Digital Media semakin perkasa dengan penguatan 24,53 persen di level Rp660 per saham.
(aud/agt)