Kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di Rp14.919 per dolar AS atau menguat dari posisi kemarin di Rp14.938 per dolar AS.
Sejalan dengan rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia juga melemah, seperti dolar Hong Kong minus 0,03 persen, rupee India minus 0,02 persen, dan yen Jepang minus 0,01 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru berada di zona merah. Franc Swiss melemah 0,38 persen, dolar Australia minus 0,36 persen, poundsterling Inggris minus 0,33 persen, dolar Kanada minus 0,29 persen, dan euro Eropa minus 0,26 persen. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,07 persen.
Kamis dini hari tadi, The Fed kembali menaikkan bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2-2,25 persen. Namun, BI kemudian langsung ikut mengerek bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.
Menurut Dini, kebijakan BI sebenarnya berhasil menahan pelemahan rupiah yang lebih dalam akibat penguatan dolar AS. Namun, dampaknya belum berhasil membuat rupiah menguat karena ada sentimen lain yang diperhitungkan pasar.
"Ini menjadi sentimen penggerak rupiah, tapi mungkin dampaknya lebih banyak besok. Soalnya pasar juga masih antisipasi sentimen dari Amerika lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/9).
Kamis malam ini, AS akan kembali merilis data pertumbuhan ekonomi dan penjualan barang jangka panjang (durable goods) Negeri Paman Sam. Untuk data pertumbuhan ekonomi, pasar berekspektasi bisa bertahan di kisaran 4,2 persen.
"Kalau yang dirilis sesuai dengan estimasi saja, ini akan jadi sentimen positif bagi dolar AS, karena ini angka tertinggi hampir 10 tahun terakhir," terangnya.
Sementara itu, data durable goods ekspektasinya lebih baik dari sebelumnya, sehingga secara otomatis sudah bisa memberi sentimen positif pada dolar AS pada esok hari. (uli/lav)