BI Sebut Pengusaha Rela Potong Untung Demi Tak Kerek Harga

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 28/09/2018 06:59 WIB
BI Sebut Pengusaha Rela Potong Untung Demi Tak Kerek Harga Ilustrasi harga barang. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut para pengusaha 'rela' memotong margin atau keuntungan demi tak menaikkan harga barang. Hal tersebut dilakukan meski ongkos produksi menanjak seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp15 ribu per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan hal ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan bank sentral nasional kepada dunia usaha yang dilakukan belum lama ini.

"Survei kami kepada pengusaha, sebagian besar hasil survei kami lebih memilih mengurangi margin dan menambah efisiensi," ujar Perry di Kompleks Gedung BI, Kamis (27/9).



Menurut Perry, hal ini juga lantaran ekspektasi kurs rupiah di kalangan dunia usaha masih terjaga rendah sejalan dengan kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah. "Depresiasi rupiah saat ini juga masih relatif terjaga," imbuhnya.

Berdasarkan data BI, depresiasi rupiah secara bulanan pada Agustus 2018 tercatat sebesar 1,05 persen. Sedangkan depresiasi secara tahun berjalan pada Januari-September 2018 mencapai 8,97 persen.

Kendati begitu, Perry tak membantah bila hasil survei BI juga menemukan beberapa kalangan pengusaha yang sudah berancang-ancang mengerek harga jual produk. 

Namun, secara menyeluruh, ia mengklaim hal itu tak akan membuat inflasi meningkat drastis sampai akhir tahun ini. Ia memperkirakan inflasi akan sesuai dengan target BI di rentang 2,5-4,5 persen.

"Bahkan pantauan kami diperkirakan akan ada deflasi pada bulan ini, sampai minggu kedua September 2018 deflasi sebesar 0,04 persen. Jadi sampai akhir tahun inflasi akan di bawah 3,5 persen," pungkasnya.

Sementara di pasar spot, rupiah berada di posisi Rp14.922 per dolar AS. Sedangkan kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di Rp14.919 per dolar AS. (uli/agi)