Annual Meeting 2018

'Harta Karun' di Balik Pertemuan IMF-World Bank di Bali

Agus Triyono, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 14:40 WIB
'Harta Karun' di Balik Pertemuan IMF-World Bank di Bali Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Bali pada 8-14 Oktober 2018 nanti diharapkan membawa berkah bagi perekonomian Bali. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo memanggil menterinya, Rabu, 22 Februari 2017 lalu. Ada dua agenda yang ingin ia bahas. Salah satunya, menyangkut posisi Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali, pada Oktober 2018.

Jokowi yang saat itu mengenakan batik coklat, mewanti-wanti para menterinya untuk mempersiapkan penyelenggaraan acara tersebut sebaik-baiknya. Ia ingin, perhelatan yang nantinya diperkirakan akan dihadiri 15 ribu delegasi dari 189 menteri keuangan, gubernur bank sentral dari negara-negara anggota itu mengundang decak kagum.

Ia juga ingin, acara tersebut bisa dijadikan momentum menunjukkan pada dunia soal kondisi ekonomi Indonesia saat ini. "Gunakan untuk menunjukkan pada dunia, Indonesia di tengah melambatnya ekonomi dunia, bisa tumbuh bagus. Gunakan juga sebagai ajang promosi perdagangan dan pariwisata," katanya ketika itu.

Tak ingin sang juragan kecewa, para menteri langsung melaksanakan titah Jokowi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) misalnya, langsung bergerak cepat dengan membenahi infrastruktur yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut.


Salah satunya dengan membangun underpass di Simpang Bundaran Patung Ngurah Rai guna mengatasi kemacetan yang mungkin terjadi saat penyelenggaraan pertemuan tersebut.

Pembenahan infrastruktur yang sama juga dilakukan PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Ngurah Rai, Bali. Untuk memperlancar pertemuan tersebut, mereka menggelontorkan anggaran Rp2,2 triliun untuk mengembangkan Bandara Ngurah Rai.

Sementara itu, dari sisi kebutuhan anggaran, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah dan BI akan menggelontorkan anggaran Rp810 miliar demi penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank.

Anggaran tersebut, Rp672 miliar dikeluarkan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Rp137 miliar lainnya dikeluarkan oleh BI. Ia mengklaim, anggaran persiapan tersebut jauh lebih kecil dibanding Singapura, Turki, Tokyo, dan Peru.


Pasalnya, ketika menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia, keempat negara tersebut harus menggelontorkan dana persiapan masing-masing sebesar Rp994,4 miliar, Rp1,25 triliun, Rp1,1 triliun, dan Rp2,29 triliun.

Anggaran yang dikeluarkan Indonesia itu pun, kata Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, tidak akan dihabiskan semua. Klaimnya, sampai dengan September ini dari total anggaran Rp810 miliar yang sudah dan akan terpakai untuk penyelenggaraan pertemuan tersebut hanya Rp566 miliar.

Efek Ganda

Walaupun dana yang digelontorkan mini, toh pemerintah mematok mimpi besar dari pertemuan tersebut. Dari sisi ekonomi, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah punya harapan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank bakal mendongkrak ekonomi Bali dari 5,9 persen menjadi 6,54 persen.

Mimpi tambahan pertumbuhan tersebut 0,26 persen diharapkan bisa didapat dari sektor konstruksi, 0,12 persen dari perhotelan, 0,5 persen dari makanan, dan 0,21 persen lainnya dari sektor lain-lain.


Selain itu, perhelatan tersebut juga diharapkan bisa membuka kesempatan kerja bagi 32.700 orang dan mengerek upah riil sebesar 1,13 persen. Dari sisi pariwisata, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pertemuan tersebut akan secara tak langsung bisa digunakan untuk mempromosikan potensi wisata Indonesia.

Untuk itulah, pemerintah saat ini telah menyiapkan 33 paket wisata untuk ditawarkan ke delegasi pertemuan. Sampai pertengahan September paket tersebut sudah dilihat 3.200 anggota delegasi.

Dari 3.200 anggota tersebut, di antaranya 302 orang atau 9 persen sudah memesan untuk melakukan kunjungan.

Luhut mengatakan pemerintah juga mengincar investasi besar dari Pertemuan Tahunan IMF-World Bank yang akan diselenggarakan di Bali. Taksirannya, ada investasi US$2 miliar-US$3 miliar atau Rp43 triliunan yang bisa diincar dari acara tersebut.


Investasi tersebut diharapkan bisa masuk untuk proyek pengolahan energi sampah maupun jalan.


(bir)