Harga Minyak Mulai Tergelincir usai Sentuh US$85 per Barel

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 03/10/2018 07:00 WIB
Harga Minyak Mulai Tergelincir usai Sentuh US$85 per Barel Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia tergelincir pada perdagangan Selasa (2/10), waktu Amerika Serikat (AS). Namun, kekhawatiran terhadap imbas sanksi AS terhadap Iran tetap menjaga harga minyak di kisaran level tertingginya dalam empat tahun terakhir.

Dilansir dari Reuters, Rabu (3/10), harga minyak mentah Brent turun US$0,18 menjadi US$84,8 per barel. Sehari sebelumnya, harga Brent sempat menembus level US$85,45 per barel.

Pelemahan tipis juga terjadi pada harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,07 menjadi US$75,23 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir US$75,91 per barel.


Harga minyak mentah telah melonjak sekitar tiga kali lipat sejak tertekan dari level terendah pada Januari 2016 setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, memangkas produksinya.

Kemudian, harga minyak dunia juga mendapatkan dorongan dari kekhawatiran pasar terhadap imbas dari pengenaan sanksi AS terhadap sektor perminyakan Iran yang akan berlaku mulai 4 November 2018. Pada saat puncaknya, Iran memasok tiga persen dari konsumsi harian minyak global.



Berdasarkan survey Reuters terhadap produksi minyak negara-negara OPEC, produksi Iran pada September lalu merosot 100 ribu barel per hari (bph). Di saat yang bersamaan, produksi minyak OPEC secara keseluruhan naik sebesar 90 ribu bph secara bulanan.

"Para analis perminyakan kami meyakini saat ini muncul risiko ini (harga minyak) dapat menyentuh US$100 per barel," ujar HSBC dalam laporan proyeksi perekonomian global untuk kuartal IV 2018.

Banyak analis menilai OPEC akan kesulitan untuk menutup berkurangnya ekspor minyak dari Iran. Meski, menurut Bank Barclays, OPEC memiliki kapasitas tersisa yang mencukupi.

Melesatnya harga minyak mentah dan melemahnya kurs mata uang negara berkembang dapat menekan pertumbuhan perekonomian global.


"Melemahnya pertumbuhan permintaan dan pasokan baru seharusnya dapat meredakan sentimen harga bakal naik (bullish) dan menekan harga lebih rendah pada akhir tahun ini," ujar Bank Barclays dalam pernyataannya yang dikutip Reuters.

Selain kekhawatiran terhadap imbas pengenaan sanksi AS terhadap Iran, harga minyak dunia mendapatkan topangan dari masih kuatnya permintaan global di tengah memanasnya tensi perdagangan.

Pada Minggu (30/9) lalu, harga minyak mendapatkan imbas positif dari kesepakatan baru Perjanjian Perdangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang merupakan perjanjian trilateral antara AS, Kanada, dan Meksiko.

Lebih lanjut, berdasarkan survey Reuters, analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS naik sekitar dua juta barel pekan lalu. (sfr/agi)