OJK Minta Calon Investor Bank Muamalat Siapkan 'Mahar' Rp4 T

ulf & Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/10/2018 19:00 WIB
OJK Minta Calon Investor Bank Muamalat Siapkan 'Mahar' Rp4 T OJK meminta calon investor Bank Muamalat menyiapkan dana Rp4 triliun yang ditempatkan di rekening pihak ketiga sambil menunggu kontrak dipenuhi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta calon investor PT Bank Muamalat Indonesia untuk menyiapkan dana sebesar Rp4 triliun yang ditempatkan sementara waktu di rekening escrow atau pihak ketiga sambil menunggu kontrak dilaksanakan. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso membuka peluang bagi seluruh pihak yang berminat untuk meminang Bank Muamalat.

Tapi katanya, investor tersebut harus mampu menunjukkan persyaratan yang diminta oleh OJK. Syarat tersebut salah satunya, ketersediaan modal sebesar Rp4 triliun yang dicatatkan di rekening escrow.

Wimboh menyebut nilai Rp4 triliun tersebut digunakan antisipasi pendanaan jangka panjang supaya ke depan Bank Muamalat tidak harus menambah modal setiap saat. Jumlah tersebut juga digunakan untuk memastikan keseriusan calon investor.


"Kalau sudah ditunjukkan di escrow account barulah kita berbicara, baik yang akan jadi ketua atau anggota konsorsium," kata Wimboh di Jakarta, Kamis (4/10). 


Sebelumnya, PT Minna Padi Investama Tbk berencana menambah modal pada Bank Muamalat. Mereka telah menyetorkan dana sebesar Rp1,7 triliun yang ditempatkan di rekening escrow.

Sayangnya, rencana Minna Padi batal. Kendati demikian, dana sebesar Rp1,7 triliun di rekening escrow tersebut ternyata sempat diperhitungkan sebagai modal inti Bank Muamalat.

Alhasil modal inti Bank Muamalat di akhir tahun lalu melejit Rp1,66 triliun menjadi Rp4,99 triliun. 
Agar kejadian tersebut tak terulang, Wimboh meminta agar pihak yang serius ingin menambah modal ke Bank Muamalat menyampaikan pemberitahuan secara formal melalui surat tertulis ke otoritas.

Selain itu, mereka juga harus menyerahkan bukti rekening escrow dengan menyebutkan pimpinan dan anggota konsorsium yang sah.
"Yang jelas kalau belum ada surat formal ke otoritas tidak perlu direspon," tegas Wimboh.


Wimboh juga menegaskan, jika persyaratan utama tersebut belum dipenuhi, proses penyuntikan modal kepada Bank Muamlat tidak bisa dilanjutkan. 
Pernyatan Wimboh itu sekaligus menjawab perkembangan rencana penambahan modal ke Bank Muamalat.

Sebelumnya, Komisaris Utama Bank Muamalat Ilham Habibie menyatakan sudah membentuk konsorsium yang siap menyuntikkan dana segar ke Bank Muamalat. Konsorsium itu terdiri dari Ilham Habibie
 sendiri, Arifin Panigoro, Lynx Asia, dan SSG Capital dari Hong Kong.

Konsorsium tersebut klaimnya 
siap mengucurkan dana ke Bank Muamalat sebesar Rp2 triliun. Mereka nantinya bakal menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan di atas 50 persen.

Ilham mengatakan, pihaknya akan menggelar rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 11 Oktober mendatang. Agenda dalam RUPS itu adalah menyetujui penerbitan saham baru dengan skema  Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.  

Sayangnya, Wimboh menegaskan RUPS belum bisa digelar jika konsorsium belum menunjukkan rekening escrow senilai Rp4 triliun."Kalau escrow account belum ada, bagaimana mau RUPS?," tegas Wimboh.

(agt)