ESDM Sebut Kilang Mogok Biang Kerok Kenaikan Impor Minyak

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 19:47 WIB
ESDM Sebut Kilang Mogok Biang Kerok Kenaikan Impor Minyak Ilustrasi kilang Pertamina. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui kenaikan impor minyak tak hanya didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat. Berhenti beroperasinya kilang milik PT Pertamina (Persero) secara tak terduga (unplaned shutdown) turut menjadi biang keladi.

Tak heran, impor hasil minyak naik lebih tinggi dibandingkan minyak mentah.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mencatat, impor BBM hingga Agustus tahun ini di angka 93,23 juta barel atau sudah mencapai 67,12 persen dari realisasi tahun lalu 138,88 juta barel. Sementara itu, impor minyak mentah di periode yang sama tercatat 78,38 juta barel atau 58,21 persen dari realisasi tahun lalu 134,64 juta barel.


Meski demikian, ia tetap yakin impor BBM dan minyak mentah hingga akhir tahun ini akan lebih kecil dibanding tahun kemarin. Namun, secara nilai, kemungkinan akan membengkak karena harga minyak dunia meningkat dan nilai tukar rupiah kian keok melawan dolar AS.

"Memang, selama ini volume impor yang naik adalah produk, termasuk BBM," papar Arcandra, Selasa (9/10).


Menurut Arcandra, terdapat beberapa penyebab kenaikan volume impor BBM. Pertama, ada kenaikan konsumsi BBM yang diproyeksi sebesar 5 persen tahun ini. Jika konsumsi BBM tahun lalu berada di angka 77,47 juta kilo liter (kl), maka konsumsi BBM di akhir tahun ini diperkirakan akan naik menjadi 81,34 juta kl.

Alasan kedua, lanjut dia, adalah terdapat beberapa kilang milik PT Pertamina (Persero) yang berhenti beroperasi secara tak terduga (unplanned shutdown). Khususnya, di Kilang Plaju dan Dumai.

Jika kilang mengalami unplanned shutdown, maka produksi BBM bisa terhambat. Namun, ia tak menyebut jumlah produksi "hilang" akibat operasional kilang yang berhenti secara mendadak tersebut.

"Dan memang saat itu unplanned shutdown terjadi pada Juni hingga Juli kemarin. Tapi kami pastikan, unplanned shutdown ini jumlahnya lebih sedikit dibanding tahun kemarin," papar dia.

Untuk itu, ia meminta Pertamina untuk mengubah strategi pemeliharaan kilang. Pertama, pemerintah meminta Pertamina untuk melakukan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) alih-alih melakukan pemeliharan preventif (preventive maintenance), seperti yang dilakukan saat ini.


Dengan predictive maintenance, padamnya kilang bisa diprediksi dari jauh-jauh hari sehingga pemeliharaan juga bisa dilakukan sedari awal. Di sisi lain, preventive maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan ketika mesin kilang sudah menunjukkan tanda-tanda sakit.

Makanya, pemerintah meminta Pertamina untuk memasang mesin pemeliharaan kilang berbasis rekayasa intelektual. Namun menurut dia, pemasangan teknologi ini tidak mahal.

"Semua kilang di dunia menggunakan strategi maintenance seperti ini. Kami harap ini bisa berlaku di seluruh kilang Pertamina secepatnya," jelas dia.

Melejitnya impor migas saat ini tengah disoroti lantaran membebani defisit neraca perdagangan yang sudah menyentuh US$4 miliar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor migas antara Januari hingga Agustus ada di angka US$19,77 miliar, atau melonjak 28,29 persen dibanding tahun lalu US$15,41 miliar. (agi/agi)