Baru Melantai, Dua Perusahaan Langsung Kena Autoreject

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 23:40 WIB
Baru Melantai, Dua Perusahaan Langsung Kena <i>Autoreject</i> Jaya Bersama Indo (DUCK) dan Garudafood (GOOD) menembus batas atas transaksi pada hari pertamanya mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) dan PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Rabu (10/10). Namun, kedua emiten tersebut langsung menembus batas atas transaksi, sehingga terkena auto-rejection.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Laksono Widito Widodo mengatakan sebagai perusahaan publik, keduanya wajib menjalankan Good Corporate Governance (GCG) dalam pengelolaan perusahaan dan transparansi. Selain itu, mereka diminta untuk memanfaatkan posisi mereka sebagai perusahaan tercatat untuk menjalankan aksi korporasi dalam meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

"Jangan khawatir sekarang perusahaan tidak akan sendiri karena sebagai bursa kami siap membantu perusahaan dalam menjalankan peran barunya sebagai perusahaan tercatat," ujarnya, di Gedung BEI, Rabu (10/10).


Jaya Bersama Indo merupakan perusahaan ke 606 di pasar modal. Pemilik merek resto The Duck King, Fook Yew, dan Panda Bowl itu melepas 513,33 juta saham atau setara dengan 40 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum perdana saham (IPO).

Jaya Bersama Indo menetapkan harga pelaksanaan sebesar Rp505 per saham. Dengan demikian, perseroan bisa mengantongi dana segar sebesar Rp259,23 miliar dari IPO.
Pada pencatatan perdana, saham Jaya Bersama Indo naik 49,5 persen atau 250 ke level Rp755 dari harga awal Rp505.

Jaya Bersama Indo menawarkan program kepemilikan saham oleh karyawan atau employee stock allocation (ESA) sebanyak-banyaknya 0,006 persen dari jumlah penerbitan saham setara 30.000 saham.


Selain itu, perseroan juga mengalokasikan sebesar 10 persen dari saham IPO setara 128,33 juta saham untuk opsi kepemilikan saham oleh manajemen atau Management and Employee Stock Option Plan (MESOP).

Perseroan akan menggunakan 80 persen dari dana hasil IPO untuk ekspansi bisnis, pembukaan gerai, dan renovasi gerai restoran yang ada. Perusahaan berencana akan membuka gerai baru di kota-kota di Jawa, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan.

Jaya Bersama Indo juga akan mengembangkan cabang di luar negeri, yakni di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Sisanya, sekitar 20 persen akan digunakan untuk modal kerja.


Sementara itu, Garudafood Putra Putri Jaya sebagai perusahaan ke 607 di pasar modal. Produsen makanan dan minuman itu melepas melepas 762,84 juta saham baru atau 10,34 persen dari modal disetor setelah IPO.

Garudafood menetapkan harga saham perdananya senilai Rp1.284 per saham. Dengan demikian, perseroan mengantongi dana segar Rp979,48 miliar dari hajatan ini.
Pada pencatatan perdana, saham Garudafood naik 49,81 persen atau 640 poin ke level Rp1.925 dari harga awal Rp1.284.

Dari total 762,84 juta saham yang dilepas perseroan, sebanyak 727,84 juta saham baru merupakan saham hasil pelaksanaan Mandatory Convertible Bond (MCB) yang diterbitkan kepada Pelican Company Ltd (Pelican).


Artinya, Pelican Company Ltd akan memiliki 727,84 juta saham Garudafood setelah resmi tercatat sebagai perusahaan publik.

Bersamaan dengan IPO perseroan juga mengadakan progam alokasi saham untuk karyawan atau Employee Stock Allocation (ESA) sebesar-besarnya 2,8 juta saham dari total saham yang ditawarkan kepada publik.

Sedangkan jumlah saham Garudafood yang ditawarkan kepada masyarakat hanya sebanyak 32,2 juta saham saja dari total saham yang dilepas saat IPO.

Seluruh dana hasil IPO akan digunakan Garudafood sebagai modal kerja perseroan dan belanja modal untuk mendukung strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang.


(ulf/bir)