Inalum-Freeport Segera Rampungkan Transaksi Divestasi

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 10:28 WIB
Inalum-Freeport Segera Rampungkan Transaksi Divestasi Penandatanganan kesepakatan awal divestasi Saham Freeport Indonesia. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum menyatakan penentuan kursi manajemen operasional PT Freeport Indonesia masih dalam proses. Kepala Bidang Komunikasi dan Hubungan Pemerintah Inalum Rendi Witular berdalih saat ini prioritas kedua perusahaan masih tertuju pada sejumlah hal terkait penyelesaian transaksi divestasi saham perusahaan tersebut.

Salah satu prioritas tersebut menyangkut pemenuhan kondisi prasyarat penyelesaian akuisisi saham. Sampai saat ini, pengacara dari dua perusahaan masih mengecek kelengkapan dokumen yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi.

Pengacara dua belah pihak juga masih mengecek kelengkapan administrasi yang diperlukan. "Yang lain, terkait persiapan kebutuhan pendanaan Inalum dalam rangka pembiayaan divestasi saham Freeport Indonesia," ujarnya melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/10).
Sebelumnya, perseroan menyatakan pembiayaan nilai transaksi senilai US$3,85 miliar itu akan berasal dari pinjaman delapan bank asing. Pinjaman tersebut diperkirakan baru cair pada November 2018.


Selain prioritas tersebut, masalah lain yang masih menjadi perhatian menjelang transaksi adalah persetujuan atas perubahan anggaran dasar Freeport Indonesia pasca diakuisisi pemerintah Indonesia dan pelaporan persaingan usaha (anti-trust filling) di lima negara tempat beroperasinya Freeport, yaitu China, Indonesia, Jepang, Filipina dan Korea Selatan.

Sedangkan prioritas lainnya terkait penyelesaian transaksi divestasi saham Freeport Indonesia. Setelah proses rampung, Inalum akan menguasai sekitar 51,23 persen saham Freeport Indonesia.

Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama belum bisa memberikan komentar terkait proses pemilihan manajemen baru Freeport Indonesia. "Saya belum bisa konfirmasi soal itu," ujarnya.
Dalam wawancara terpisah sebelumnya, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menyatakan manajemen baru Freeport Indonesia akan dipilih bersama dengan Freeport-McMoran.

"Posisi manajemen akan kami pilih bersama dan kami perhatikan yang terbaik supaya (operasi) jangan sampai terganggu. Banyak proses pengambilalihan yang begitu, tak mulus, produksi turun," terang Budi.

Budi mengungkapkan perseroan dan Freeport McMoran memiliki kepentingan untuk memastikan operasi tetap berjalan mulus pasca pengambilahan saham oleh Inalum. Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Freeport-McMorran Richard Adkerson menyatakan Freeport telah bersepakat dengan Inalum untuk bermitra dalam menjalankan operasional.

Meski porsi saham Inalum akan meningkat menjadi 51,23 persen dan saham Freeport-McMOran turun menjadi 48,77 persen, kedua belah pihak sepakat untuk menjaga stabilitas operasional.
"Ini merupakan kemitraan antara Freeport-McMoran dengan Inalum," kata Adkerson beberapa waktu lalu.

Adkerson mengungkapkan tambang Freeport merupakan tambang tersulit di dunia yang membutuhkan pengalaman dan kualifikasi teknis mumpuni. Pengamat pertambangan dari Universitas Tarumanegara Ahmad Redi menilai Inalum harus menjadi pengendali perusahaan setelah menjadi pemegang saham mayoritas Freeport.

"Kendali tersebut dapat dilakukan secara maksimal apabila Inalum mengambil alih manajemen operasional," jelas Ahmad.

Ahmad mengingatkan tujuan divestasi saham adalah peralihan kontrol atau kendali dan peralihan manfaat dari Freeport-McMOrran dan Rio Tinto ke Inalum. Menurut Ahmad, Inalum telah memiliki kemampuan untuk mengambil alih kendali manajemen. Hal itu terbukti saat mereka mengambil alih konsorsium Jepang di proyek Inalum Asahan.

"Walaupun butuh waktu, saya kira paling lama setahun proses transisional pengambilalihan manajemen operasional bisa dilakukan," tandas Ahmad.
(sfr/agt)