Aktivis Kritik Pertemuan IMF-World Bank

CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 05:44 WIB
Aktivis Kritik Pertemuan IMF-World Bank Ilustrasi Pertemuan Tahunan IMF-World Bank. (Goh Chai Hin / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah elemen masyarakat merespons negatif Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF-World Bank) di Nusa Dua, Bali. Mereka mempertanyakan peran dari kedua lembaga tersebut bagi perekonomian Indonesia maupun dunia.

Koordinator Gerak Lawan Muhammad Reza Sahid menyatakan IMF dan Bank Dunia adalah dua lembaga yang kehadiran tidak memberikan keuntungan bagi rakyat dunia.

"IMF adalah sebuah kenihilan, kesia-siaan yang hakiki atas kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat dunia. Tak ada hal siginifikan yang berguna dilakukannya selama lembaga ini eksis di muka bumi. Yang miskin tetap saja miskin, malah makin miskin. Kedaulatan negara digerogoti," tuturnya dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com.


Selama pertemuan IMF ini berlangsung, gerakan ini akan melakukan serangkaian kegiatan seperti aksi damai, diskusi, serta pertunjukan budaya untuk menyuarakan penolakan atas kedua lembaga ini.


Senada, Koordinator Internasional La Via Campesina Zaninal Arifin Fuad turut menuding IMF dan Bank Dunia terlibat dan berperan dalam menganulir makna reforma agraria. Menurutnya, reforma agraria yang dikemukakan Bank Dunia dan IMF berbasis pasar dan bukan yang diinginkan komunitas petani.

Di sisi lain, I Nyoman Mardika dari Yayasan Manikaya Kauci berpendapat bahwa rakyat bali harus mengetahui esensi dan substansi dari acara yang diselenggarakan di Bali ini. Menurutnya, selama ini Bali sering menjadi tempat diselenggarakannya kegiatan bertaraf internasional yang cenderung 'membuai' rakyat bali.

"Memang 70 persen pendapatan daerah di Bali berasal dari pariwisata, Di sisi lain, Bali kehilangan 800 - 1000 hektar lahan setiap tahunnya," paparnya.


Selain itu, terdapat beberapa penolakan kebijakan Bank Dunia dan IMF lainnya yang dilakukan oleh Gerak Lawan seperti, pembagunan NYIA (New Yogyakarta International Airport), perampasan laut dari industri pariwisata dan pembagunan infrastruktur kawasan ekonomi di Bintan-Kepulauan Riau, dan juga proyek-proyek raksasa lainnya yang terkait dengan energi dan pertambangan.

Hingga kini, Gerak Lawan sudah memiliki 10 ribu partisipan di 25 wilayah yang melibatkan 15 organisasi dengan 32 Agenda. (mjs/agi)