"Sudah saya putuskan Premium batal (naik harga) sudah. Sudah saya batalkan, dengan hitung-hitungan, dengan angka-angka yang sangat realistis," tegas Jokowi di Istana Bogor, Sabtu (13/10).
Jokowi memaparkan alasannya membatalkan kenaikan Premium adalah untuk menjaga daya beli masyarakat karena Premium menyangkut hajat masyarakat luas. Kenaikan harga Premium ia pastikan akan memicu inflasi sehingga mengerek harga.
Jokowi khawatir kenaikan harga-harga tersebut akan menekan daya beli masyarakat. Padahal konsumsi masyarakat adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, Pertamina telah mengerek harga Pertamax menjadi Rp10.400 per liter dari harga sebelumnya Rp9.500 per liter. Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp12.250 per liter dari Rp10.700 per liter.
Jokowi meyakini kenaikan harga Pertamax dan Dex Series mampu membantu keuangan Pertamina di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyentuh US$74,88 per barel pada Oktober 2018.
"Oleh sebab itu kemarin setelah saya dapat laporan terakhir dari Pertamina, berapa kalau kita naikkan segini, dihutung lagi keuntungan tambahan di Pertamina, tidak signifikan. Sudah saya putuskan Premium batal (naik harga)," paparnya.
Rabu lalu, Jonan mengumumkan pemerintah akan menaikkan harga BBM jenis Premium. Untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali, harga BBM akan dinaikkan dari Rp6.550 menjadi Rp7 ribu per liter.
Sementara itu, untuk wilayah di luar Jawa, Madura, dan Bali harga premium dinaikkan dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter. Kenaikan tersebut rencanannya mulai berlaku Rabu sore atau setelah PT Pertamina (Persero) siap.
Tapi, kenaikan tersebut tiba-tiba urung dilaksanakan.
(ulf/agt)