Omzet Pedagang di Nusa Dua Merosot Gara-gara Pertemuan IMF-WB

Tim, CNN Indonesia | Senin, 15/10/2018 19:07 WIB
Omzet Pedagang di Nusa Dua Merosot Gara-gara Pertemuan IMF-WB Ilustrasi pedagang di Nusa Dua. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belasan ribu delegasi mancanegara yang hadir dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-World Bank) 2018 ternyata tak mampu mendongkrak penjualan pedagang di kawasan Nusa Dua, Bali. Sebagian besar pedagang bahkan mengaku mengalami penurunan penjualan atau omzet harian.

Mukni Abdulatori (30),salah satu pedagang gerai gelato di Bali Collection, pusat perbelanjaan di dalam kawasan Indonesia Tourism Development Center (ITDC) Nusa Dua Bali mengeluhkan omzetnya menurun selama pertemuan yang diselenggarakan pada 8 - 14 Oktober 2018. Biasanya, omzet penjualan sehari bisa mencapai Rp1 juta per hari. Namun, selama perhelatan berlangsung, rata-rata ia hanya mengantongi Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari.

"Menurut saya, dampaknya (Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia) negatif, karena penjualan saya menurun, tamunya tidak ada yang masuk," ujar wanita yang akrab disapa Lia ini kepada CNNIndonesia.com, Minggu (14/10) petang.


Lia menduga turunnya omzet penjualan dikarenakan ketatnya pengamanan selama acara berlangsung. Akibatnya, tamu umum yang kerap mampir ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Nusa Dua ini tidak bisa masuk. Padahal, konsumennya selama ini adalah keluarga yang sedang menghabiskan waktu untuk berlibur di Bali.

Sementara, sebagian besar kebutuhan delegasi telah dipenuhi oleh penyelenggara maupun hotel tempat menginap. Delegasi juga memiliki pilihan untuk berbelanja di luar kawasan Nusa Dua.

"Tamu IMF mungkin lebih suka ke luar, tujuannya tidak di sini saja mungkin ke GWK, Ubud, tidak ke sini saja," ujarnya.

Omzet Pedagang di Nusa Dua Merosot Gara-gara Pertemuan IMF-WBPedagang gerai Gelato di Bali Collection, Nusa Dua. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)

Keluhan serupa juga berasal dari Made (48), penjaga salah satu toko souvenir Bali di Nusa Dua. Selama perhelatan berlangsung, jumlah tamu yang mampir ke toko juga berkurang.

"Tamu dari luar tidak bisa masuk ke sini. Jadi penjualannya tidak terlalu (banyak)," ujarnya.

Kondisi tersebut jauh berbeda dari harapan Made. Ia semula berharap pertemuan para petinggi di sektor keuangan mampu mengerek penghasilannya.

"Besar sekali harapan saya untuk mereka datang berbelanja ke sini tetapi kenyataannya jauh dari harapan. Semoga setelah acara resmi ditutup pelanggan kembali normal," ujarnya.

Selama perhelatan berlangsung, ia juga mengeluhkan harus memarkir kendaraannya jauh dari toko. Demi keamanan, pengelola kawasan telah mengarahkan parkir pegawai ke luar area ITDC Nusa Dua. Untuk menuju tokonya, pihak pengelola menyediaan bus shuttle.

Sementara itu, pemilik restoran di wilayah yang sama, Kadek (23) juga mengaku mengalami penurunan omzet. Ia menduga hal tersebut terjadi karena elegasi biasanya telah mendapatkan konsumsi dari seminar yang diadakan di hotel. Padahal, ia semula berharap banyaknya tamu asing yang hadir dalam pertemuan tersebut dapat membuat restorannya banjir pengunjung.


"Omzet iya menurun. (Mungkin) kalau dari hotel tidak disediakan konsumsi, mereka (delegasi) kan bisa mampir ke sini," ujar pelayan di salah satu restoran di kawasan Nusa Dua ini.

Meskipun demikian, tak memungkiri tadinya ia berekpektasi banyaknya tamu asing yang datang membuat restorannya akan kebanjiran tamu.

Pertemuan Tahunan IMF - Bank Dunia 2018 resmi ditutup pada Minggu (14/10). Penyelenggara mencatat pertemuan tersebut dihadiri oleh 36.669 peserta teregistrasi. Perserta tersebut terdiri dari 15.049 peserta yang mendaftar melalui sistem IMF-Bank Dunia dan 21.620 peserta sisanya mendaftar melalui Panitia Nasional.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sebelumnya memperkirakan pengeluaran delegasi asing selama pertemuan IMF-World Bank dapat mencapai US$2.500 atau sekitar Rp38 juta (asumsi kurs Rp15.200 per Dolar AS). Jumlah tersebut dua kali lipat lebih besar dibandingkan rata-rata pengeluaran wisatawan asing reguler. (sfr/agi)