Pelemahan Rupiah Dongkrak Penerimaan BI

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 06:15 WIB
Pelemahan Rupiah Dongkrak Penerimaan BI Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan penerimaan BI tahun ini 19 persen di atas rencana. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan kantong penerimaan mereka tahun ini bakal melebihi asumsi yang sudah dituangkan dalam Anggaran Tahunan BI (ATBI) 2018. Mereka memperkirakan penerimaan bakal naik sekitar 19,16 persen dari asumsi Rp26,96 triliun menjadi Rp32,13 triliun pada akhir tahun ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkiraan tersebut berasal dari realisasi penerimaan per September 2018 yang sudah mencapai  Rp29,26 triliun. Penerimaan tersebut sudah 8,53 persen dari asumsi awal.

Perry bilang penerimaan yang bagus tersebut terdorong oleh pos hasil pengelolaan aset valas. Dalam ATBI 2018, pos penerimaan tersebut diproyeksikan bisa memberi sumbangan sebesar Rp26,79 triliun kepada BI. Namun, per September 2018 rupanya sudah mencapai Rp29,11 triliun.


Peningkatan hasil pengelolaan aset valas pada tahun ini terjadi karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus meningkat sejak awal tahun. Pada akhir Desember 2017, BI mencatat kurs rupiah hanya sekitar Rp13.394 per dolar AS. Namun, kursnya terus bergerak sampai saat ini.
Per kuartal I 2018 kurs rupiah berada di posisi Rp13.576 per dolar AS. Lalu, per kuartal II 2018 sebesar Rp13.952 per dolar AS. "Rata-rata nilai tukar di 2018 sebesar Rp14.300 per dolar AS," ujar Perry di Gedung DPR/MPR, Rabu (17/10).

Selain itu, ada juga peningkatan penerimaan dari pos operasional kegiatan pendukung yang semula hanya diasumsikan sebesar Rp41 triliun, namun sampai September 2018 telah mencapai Rp47 triliun atau lebih 15,33 persen dari target. Sementara pos terakhir, penerimaan administrasi masih belum mencapai target, yaitu sebesar Rp101 triliun per September 2018 dari target Rp127 triliun pada akhir tahun.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, Perry memperkirakan bank sentral nasional justru bisa berhemat sekitar Rp1,06 triliun sampai akhir tahun. Pengeluaran BI semula diperkirakan mencapai Rp9,5 triliun, namun perkiraan sampai akhir tahun hanya sekitar Rp8,44 triliun atau hanya 88,87 persen dari target.

Menurut Perry, penghematan bisa dilakukan karena rata-rata belanja tiap-tiap pos diperkirakan hanya terealisasi sekitar 90 persen saja. Ia memastikan hanya pos program sosial BI dan pemberdayaan sektor riil serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang realisasi belanjanya mencapai Rp418 triliun atau 100 persen.

Meski, sampai September 2018 baru mencapai Rp222 triliun atau 53,1 persen dari anggaran yang disiapkan. "Hal ini karena kami ingin mendukung pengembangan ekonomi," katanya.

Sedangkan pos pengeluaran gaji dan penghasilan lainnya diperkirakan hanya akan sebesar Rp3,22 triliun atau 91,69 persen dari target Rp3,51 triliun. Lalu, pos manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) diperkirakan hanya terealisasi 90 persen sebesar Rp1,91 triliun dan pos logistik hanya 90 persen sebesar Rp952 miliar.

Kemudian, pos penyelenggaraan operasional kegiatan pendukung hanya 90 persen sekitar Rp1,07 triliun dan pembayaran pajak hanya 90 persen sebesar Rp875 miliar. Sementara pos pengeluaran cadangan anggaran diperkirakan tidak terpakai sama sekali. Dengan begitu asumsi pengeluaran untuk pos ini sebesar Rp232 triliun tetap berada di kantong BI.

"Secara keseluruhan, kami perkirakan surplus anggaran sebesar Rp23,68 triliun dari proyeksi awal Rp17,45 triliun," pungkasnya.
(uli/agt)