Rupiah dan Mata Uang Asia Lemas 'Dihantam' The Fed

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 16:43 WIB
Rupiah dan Mata Uang Asia Lemas 'Dihantam' The Fed Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.194 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot sore ini, Kamis (18/10), melemah 44 poin atau 0,29 persen dari posisi kemarin Rp15.150.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.187 per dolar AS atau melemah 9 poin dari level kemarin Rp15.178 per dolar AS.

Tak hanya rupiah, sebagian besar mata uang Asia lain juga melesu. Won Korea Selatan mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,73 persen, dolar Taiwan melesu 0,32 persen, dan baht Thailand melemah 0,19 persen.



Selanjutnya, rupee India melemah 0,18 persen, yuan China melemah 0,14 persen, ringgit Malaysia melemah 0,14 persen, dan peso Filipina melemah 0,05 persen.

Hanya yen Jepang dan dolar Singapura yang menguat masing-masing 0,08 persen, dan 0,07 persen.

Pada saat bersamaan, para gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve tidak melihat alasan untuk menghentikan kebijakan kenaikan suku bunga acuan secara bertahap saat ini, di tengah ekspansi ekonomi AS yang pesat.

Hal itu terungkap dalam rangkuman pertemuan Gubernur The Fed yang dirilis pada Rabu (17/10), waktu AS, seperti dikutip AFP.


Berdasarkan rangkuman pertemuan terakhir the Fed tiga pekan lalu, kenaikan suku bunga lebih lanjut berpotensi konsisten dengan periode saat ini, memperkuat inflasi dan mencatatkan tingkat pengangguran yang rendah.

Namun, beberapa anggota the Fed memperingatkan ketidakstabilan di pasar negara berkembang. Sebagian besar negara memiliki utang yang besar dan rentan ketika suku bunga AS naik. Hal itu dapat menular lebih luas melalui ekonomi global dan pasar keuangan.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed yang dilakukan terus menerus telah membuat Presiden Donald Trump geram. Sampai-sampai Trump menyebut pembuat kebijakan bank sebagai pihak yang 'gila', dan menjadi ancaman terbesarnya. (lav/bir)