Caplok Saham Freeport, Inalum Pastikan Tak Pinjam Bank China

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 20:20 WIB
Caplok Saham Freeport, Inalum Pastikan Tak Pinjam Bank China Ilustrasi PT Freeport Indonesia. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) memastikan tidak akan mengambil pinjaman dari bank asal China untuk membiayai transaksi divestasi saham PT Freeport Indonesia. Pasalnya, tingkat bunga yang ditawarkan tidak kompetitif alias terlalu tinggi.

"(Pinjaman tidak dari bank China) karena bunganya enggak kompetitif. Masalah bunga saja," ujar Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Pemerintah Inalum Rendi A. Witoelar dalam diskusi dengan awak media di Jakarta, Kamis (18/10).

Rendy mengungkapkan perusahaan bakal meminjam uang dari delapan bank asing untuk menyelesaikan transaksi senilai US$3,85 miliar tersebut. Namun, karena terikat perjanjian kerahasiaan (non disclosure agreement/NDA), dia belum bisa menyebutkan tingkat bunga pinjaman dan daftar bank yang akan menjadi kreditur Inalum tersebut.



Kendati demikian, sempat mengemuka salah satu bank yang ikut patungan adalah bank asal Jepang, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd.

Meski mendapat dana dari suntikan bank asing, Rendy menegaskan perusahaan tidak membiarkan Freeport Indonesia dikuasai asing. Hal itu mengingat dalam perjanjian pinjaman tidak ada aset yang dijaminkan. Karenanya, ia membantah jika perusahaan telah menggadaian aset Freeport Indonesia.

"Enggak ada yang dijaminkan," ujarnya

Rendy menegaskan potensi bisnis Freeport Indonesia sangat bagus. Apabila tambang bawah tanah (underground) beroperasi mulai 2021-2022, Freeport Indonesia diperkirakan bisa mengantongi laba bersih lebih dari US$2 miliar per tahun.


Dari sisi rekam jejak, Freeport Indonesia juga tidak memiliki utang. Tak ayal, perusahaan tak kesulitan untuk mendapatkan pinjaman perbankan.

"Mereka (Freeport) mampu menghidupi sendiri dan harga (divestasi) yang kami dapat murah," ujarnya.

Lebih lanjut, Rendy memperkirakan pinjaman perbankan bakal cair pada November 2018. Setelah itu, perusahaan dan Freeport-McMoran, induk Freeport Indonesa, tinggal menyelesaikan seluruh proses administrasi terkait.

(sfr/lav)