IMF Sebut Perang Dagang Untungkan Negara Asia

CNN Indonesia | Sabtu, 13/10/2018 09:54 WIB
IMF Sebut Perang Dagang Untungkan Negara Asia IMF memperkirakan perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China akan menguntungkan negara di Asia. (REUTERS/Yuri Gripas)
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan perang dagang yang berkecamuk antara Amerika Serikat dan China tidak akan menghasilkan pemenang ataupun pecundang.  Direktur Departemen Asia Pasifik IMF Changyong Rhee mengatakan kedua negara yang terlibat dalam konflik tersebut merupakan pasar terbesar bagi sektor perdagangan dunia.

Hal tersebut membuat apapun yang terjadi kepada mereka tetap bisa memberikan keuntungan pada masing-masing pihak. "Misalnya, China tidak bisa mengimpor kedelai dari AS, tapi mereka bisa mengambil dari Amerika Latin. Pada akhirnya tidak akan ada yang jadi pemenang dalam perang dagang ini," ujar Rhee di sela pertemuan tahunan IMF-WB 2018, Jumat (12/10).

Menurutnya, kedua negara pada akhirnya perlu berusaha untuk terus mencari jalan keluar dan memperkuat rantai pasok perdagangan dan akses pasar masing-masing. Contoh lain, dengan adanya perang dagang dengan AS, China kemudian turut melakukan penyesuaian di sektor keuangannya dengan melonggarkan kebijakan moneter.


"Akhirnya kebijakan itu harus disesuaikan setiap hari, setiap minggu," imbuhnya.
Peluang Bagi Asia

Meski menilai tidak akan ada yang menang dan kalah dalam perang dagang, namun IMF memperkirakan negara di kawasan Asia  akan menerima keuntungan dari konflik tersebut. Keuntungan mereka dapat dari upaya dua negara mencari sumber dan tujuan perdagangan baru. 

"Studi kami menunjukkan masih banyak peluang untuk Asia dalam memperoleh pertumbuhan, meski ketegangan antara AS-China meningkat, tapi dengan rantai pasok yang terbuka, negara Asia bisa meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan perdagangan," ungkapnya.

Karena peluang tersebut, ia menekankan negara di kawasan Asia untuk tetap memperhatikan kekuatan fundamental ekonominya. Pengelolaan fundamental ekonomi yang kuat, ekonomi Asia bisa tetap baik. 

"Para pembuat kebijakan di Asia harus fokus pada fundamental, melalui pengelolan fiskal yang baik dan neraca transaksi berjalan," pungkasnya.
(uli/agt)