BI Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan Lampaui 3 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 10:45 WIB
BI Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan Lampaui 3 Persen Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal III 2018 melebihi kuartal sebelumnya yang sudah mencapai 3 persen terhadap PDB. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia pada kuartal III 2018 akan melebihi kuartal sebelumnya yang sudah mencapai 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan proyeksi ini berasal dari kondisi pertumbuhan ekspor periode Januari-September 2018 yang masih lebih rendah dibandingkan impor. Meski, pada bulan lalu, kondisi neraca perdagangan sempat membaik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekspor turun 6,58 persen secara bulanan pada September 2018, sedangkan impor turun 13,18 persen. Namun, secara tahun berjalan, pertumbuhan ekspor hanya 9,41 persen, padahal impor telah mencapai 23,33 persen dari Januari-September 2018.



"Defisit transaksi berjalan kuartal III 2018 akan sedikit lebih tinggi dari defisit kuartal II 2018. BI melihat ini karena pertumbuhan ekspor yang lebih rendah daripada impor," ujar Mirza di Kompleks Gedung BI, Selasa (23/10).

Lebih lanjut, Mirza bilang, pertumbuhan impor pada kuartal III 2018 lebih tinggi ketimbang ekspor karena harga komoditas dunia sedang tidak mendukung. Dari sisi impor, harga minyak mentah dunia justru kian tinggi.

"Indonesia adalah importir minyak dan harga minyak sedang naik, sehingga impor minyak meningkat. Ditambah juga karena sedang mengakselerasi infrastruktur," jelasnya.


Sedangkan bagi sisi ekspor, harga komoditas andalan Tanah Air justru melempem, yaitu minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO) dan batu bara, sehingga menekan nilai ekspor.

Meski begitu, secara keseluruhan, BI meyakini defisit transaksi berjalan sepanjang tahun ini masih bisa di bawah ambang batas 3 persen terhadap PDB.

"BI melihat defisit masih bisa di bawah 3 persen karena kelihatannya di kuartal IV 2018 akan sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal III, yang di mana kuartal III lebih tinggi dari kuartal II," pungkasnya.


Berdasarkan data BI, defisit transaksi berjalan kuartal I 2018 sebesar 2,2 persen dari PDB. Lalu, kuartal II 2018 sebesar 3 persen dari PDB, sehingga secara kumulatif semester I 2018 sebesar 2,6 persen dari PDB. (uli/lav)