Harga Komoditas Lesu, BI Ramal Ekonomi Kuartal III Menurun

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 17:42 WIB
Harga Komoditas Lesu, BI Ramal Ekonomi Kuartal III Menurun Ilustrasi logo Bank Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2018 akan lebih rendah dari capaian kuartal II tahun ini yang sebesar 5,27 persen. Pemicunya, harga komoditas ekspor andalan Indonesia menyusut.

"Angkanya mirip-mirip kuartal I 2018, sekitar 5,1 persen kurang sedikit," ucap Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara di Kompleks Gedung BI, Selasa (23/10).

Menurut Mirza, pertumbuhan ekonomi pada periode Juli-September 2018 akan lebih rendah ketimbang April-Juni 2018 karena pertumbuhan ekspor mulai melambat. Namun, berpotensi sedikit lebih tinggi dari kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen.



Hal ini karena harga komoditas ekspor andalan Indonesia menurun di pasar dunia, yaitu minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan batu bara.

"Kedua harga komoditas ini agak melemah di pasar dunia, sehingga menekan ekspor," katanya.

Meski impor bulanan pada September lalu terkontraksi, namun masih cukup tinggi secara kumulatif tahun berjalan. Tingginya nilai impor, katanya, tak lepas dari faktor harga minyak mentah di pasar dunia.


"Indonesia adalah importir minyak dan harga minyak sedang naik, sehingga impor minyak meningkat. Di sisi lain, ditambah juga karena sedang mengakselerasi infrastruktur," jelasnya.

Kendati begitu, ia bilang, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 setidaknya masih mendapat kontribusi besar dari konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Permintaan konsumsi rumah tangga dan investasi masih cukup kuat. Begitu juga dengan fiskal pemerintah, Bujet APBN tetap mencukupi. Meski, ekspor lemah dan impor tinggi," terangnya.

Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di batas bawah asumsi bank sentral nasional sebesar 5,0-5,4 persen.


Sementara itu, asumsi makro pemerintah dalam APBN menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5,4 persen sepanjang tahun ini. (uli/lav)