Kemendes Klaim PDB Perdesaan Naik Nyaris 50 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 15:01 WIB
Kemendes Klaim PDB Perdesaan Naik Nyaris 50 Persen Kemendes mengklaim PDB perdesaan naik nyaris 50 persen dalam empat tahun terakhir, dari Rp574 ribu per bulan menjadi Rp820 ribu per bulan. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengklaim Produk Domestik Bruto (PDB) perdesaan naik nyaris 50 persen dalam empat tahun terakhir. Pada 2014 silam, PDB perdesaan hanya Rp574 ribu per bulan, namun saat ini sudah lebih dari Rp820 per ribu per bulan.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengungkapkan kenaikan PDB didorong oleh kucuran dana desa yang masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika angka PDB perdesaan bisa dipertahankan, maka bukan tak mungkin dalam tujuh tahun ke depan nilainya lebih dari Rp2 juta per bulan.

"Jika PDB lebih dari Rp2 juta per bulan, maka bisa memberikan kontribusi US$1 triliun PDB untuk Indonesia," ujarnya, Rabu (24/10).


Dalam APBN 2018, jumlah dana desa sama seperti 2017, yakni Rp60 triliun. Bila sesuai target, pemerintah akan mengucurkan Rp800,4 juta untuk 74.957 desa tahun ini.

Data Kementerian Keuangan melansir, realisasi penggunaan dana desa per September 2018 hanya Rp37,9 triliun. Angka itu turun 4,3 persen dibandingkan dengan penyerapan anggaran pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp39,6 triliun.

"Secara tahunan, penyerapan sudah semakin tinggi. Pada 2015 penyerapan 82,72 persen, 2016 sebesar 97,65 persen, dan 2017 98,54 persen. Insyaallah tahun ini bisa di atas 99 persen," papar Eko.


Selain itu, sambung dia, angka kemiskinan perdesaan juga semakin menurun. Ia bilang tahun ini angka kemiskinan turun signifikan mencapai lebih dari 1,2 juta orang.

"Itu dua kali lipat dibandingkan kota yang hanya turun 580 ribu orang, tapi jumlah orang miskin di desa memang lebih banyak," terang Eko.

Banyaknya masyarakat miskin yang tinggal di desa sudah terjadi sejak Indonesia merdeka pada 1945 silam. Kendati begitu, Eko optimistis jika jumlah penurunan per tahunnya bisa dipertahankan di angka 1,2 juta orang, maka jumlah orang miskin di desa bisa lebih sedikit dari orang miskin di kota.


(aud/bir)