Kementan Klaim 99 Persen Bibit Padi Gunakan Produk Lokal

CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 06:09 WIB
Kementan Klaim 99 Persen Bibit Padi Gunakan Produk Lokal Kementerian Pertanian mengklaim 99 persen bibit yang digunakan untuk menanam padi dan menghasilkan beras diambil dari produksi penangkaran lokal. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertanian mengklaim 99 persen bibit padi telah menggunakan produk bibit dalam negeri yang diproduksi oleh penangkaran lokal. Itu berarti Indonesia hanya impor 1 persen saja kebutuhan bibit padi.

"Kalau yang impor tidak banyak, kecil sekali masih di bawah 1 persen untuk padi hibrida saja," ungkap Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Kementerian Pertanian Moh Ismail Wahab di Menara Kadin, Rabu (24/10).

Ia memaparkan Indonesia membutuhkan kurang lebih 400 ribu ton bibit padi di tahun 2018. Jumlah tersebut didapat dari asumsi total lahan seluas 16 juta hektare (ha) dengan alokasi kebutuhan bibit 25 kilogram (kg) per hektar.
Jika mengacu dari data tersebut, maka Indonesia masih perlu mengimpor sekitar 4 ribu ton bibit padi. Ismail mengatakan, Indonesia mendatangkan suplai bibit padi tersebut dari India dan China.


"Tapi dalam dua tahun benih induknya harus diproduksi dalam negeri. Jadi setelah dua tahun benih padinya harus diproduksi dalam negeri," ujarnya.

Ismail mengatakan selain impor bibit padi, Indonesia masih perlu mendatangkan bibit dan benih produk hortikultura dari luar negeri. Sayangnya, ia tidak menyebutkan detail jenis bibit hortikultura yang diimpor serta jumlahnya.

"Yang masih banyak kami impor itu untuk beberapa jenis tanaman hortikultura," katanya.
Menanggapi impor bibit dan benih, Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Franciscus Welirang mengatakan ketersediaan bibit dan benih dalam negeri sebenarnya menjadi kunci utama menuju ketahanan pangan. Ironisnya, kekurangan produksi bibit dan benih dalam negeri tak kunjung membaik sejak belasan tahun lalu. 

"Apa yang timbul 17 tahun lalu juga dibicarakan hari ini, masalahnya tidak berubah. Sehingga kami ke depan seharusnya ada sikap," kata dia.

Franky sapaan akrabnya menyatakan ketersediaan bibit dan benih dalam negeri seharusnya menjadi isu utama yang menjadi perhatian pemerintah. Selama ini, pemerintah terfokus pada polemik impor produk hortikultura sehingga permasalahan pasokan bibit dan benih dari dalam negeri terabaikan.

Franky memaparkan Indonesia masih banyak mengimpor bibit dan benih produk hortikultura salah satunya jagung."Selama ini yang dimonitor kan impor bawang tapi bibit ini tidak pernah dilihat," ujar Franky.
(ulf/agt)