Menteri PPN Ungkap Sulitnya Minta Pertamina Bangun Kilang

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 19:17 WIB
Menteri PPN Ungkap Sulitnya Minta Pertamina Bangun Kilang Menteri PPN/Bappenas (REUTERS/Iqro Rinaldi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengaku sempat tak memahami alasan PT Pertamina yang enggan membangun kilang minyak. Akibatnya, Indonesia hingga kini harus terus mengimpor minyak yang membebani defisit neraca perdagangan.

Bambang bercerita, ia pernah menjadi komisaris Pertamina beberapa tahun silam mewakili pemerintah saat menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Kala itu, ia mengaku pernah meminta Pertamina membangun kilang demi mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Singapura.

"Saat saya menjadi komisaris, jajaran direksi sempat berjanji untuk membangun kilang. Saya juga selalu mendorong mereka (Pertamina) untuk membangun kilang. Tapi entah kenapa mereka enggan," ujar Bambang di Jakarta, Selasa (30/10).


Awalnya, Bambang mengaku memahami keengganan Pertamina membangun kilang lantaran masalah finansial. Sebab, pembangunan kilang tentu makan biaya yang tak sedikit.

Bambang kemudian menawarkan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) kepada Pertamina untuk pembangunan kilang, di mana Pertamina tak perlu menyetor modal dan hanya menjadi pihak penyerap utama (offtaker) hasil kilang tersebut. Hanya saja, ketika menjadi offtaker, dewan direksi Pertamina menganggap skema itu malah memberatkan posisi keuangan Pertamina. Hal itulah yang masih belum dimengerti Bambang hingga saat ini.

"Saya dulu pernah belajar mengenai ekonomi dan sedikit tahu mengenai keuangan, tapi saya masih tak mengerti kenapa menjadi offtaker itu akan membebani keuangan perusahaan,"imbuh dia.

Urgensi membangun kilang, lanjut Bambang, cukup tinggi lantaran konsumsi BBM yang terus menanjak. Saat ini, konsumsi BBM per hari mencapai 1,4 juta barel per hari dan diperkirakan akan melesat 1,9 juta barel per hari 2025 mendatang. Namun, kapasitas kilang Pertamina hanya 1,1 juta barel per hari saja.

Bambang pun meminta maaf tak bisa memaksa Pertamina kala itu. Namun, ia mengapresiasi Pertamina yang kini sudah berniat membangun dua kilang baru yang berlokasi di Tuban dan Bontang, namun tingkat kemajuannya dianggapnya masih belum maksimal.


"Menurut saya yang terpenting dari pembangunan kilang itu bukan masalah teknis atau keuangan, tapi masalah kemauan saja," tutur dia.

Pembangunan kilang baru pun dianggap bisa memicu harga BBM yang lebih efisien. Utamanya bagi BBM kelas Euro 4, yakni BBM dengan kadar oktan di atas 91 yang disebutnya saat ini masih mahal. Tak heran, penggunaan BBM di Indonesia sebagian besar masih di kelas Euro 2, atau kalah dibanding negara lain seperti India, Malaysia, dan Singapura.

"Ketika konsumsi meningkat, maka harus dipastikan bahwa harga BBM Euro 4 harus terjangkau juga. Itu tantangan utama yang perlu diperhatikan Indonesia ke depan," papar dia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor migas antara Januari hingga September tahun ini di angka US$22,05 miliar atau melonjak 27,16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya US$17,34 miliar. (agi)