Rupiah Tak Bergeming Meski Perang Dagang AS-China Memanas

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 16:52 WIB
Rupiah Tak Bergeming Meski Perang Dagang AS-China Memanas Nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.224 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Selasa (30/10). Posisi ini melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen dari kemarin sore, Senin (29/10) di Rp15.223 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.237 per dolar AS atau melemah dari kemarin sore di Rp15.218 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama mayoritas mata uang. Mulai dari ringgit Malaysia yang minus 0,02 persen, dolar Singapura minus 0,03 persen, dolar Hong Kong minus 0,03 persen, rupee India minus 0,19 persen, dan yen Jepang minus 0,3 persen.


Namun, won Korea Selatan menguat 0,18 persen, peso Filipina 0,07 persen, dan renminbi China 0,04 persen. Sedangkan baht Thailand stagnan.


Berbeda dengan mata uang Asia, mata uang utama negara maju justru terbagi rata. Sebagian di zona hijau, seperti rubel Rusia menguat 0,03 persen, dolar Kanada 0,13 persen, dan dolar Australia 0,44 persen.

Sebagian lainnya di zona merah, seperti poundsterling Inggris melemah 0,24 persen, euro Eropa minus 0,02 persen, dan franc Swiss minus 0,02 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah hari ini memang melemah tipis, namun kurs mata uang Garuda justru terlihat cukup gagah menghadapi sentimen eksternal. Sentimen tersebut datang dari rencana pemerintah AS yang akan kembali memberlakukan tarif impor baru untuk produk-produk asal China dengan nilai mencapai US$257 miliar jika kesepatan antara kedua negara tak tercapai. 


Sentimen itu, kata Dini, sejatinya berhasil membuat indeks dolar AS kembali meningkat. "Ketahanan rupiah nampaknya sudah teruji, cukup bertahan dan tidak bergeming dari sentimen eksternal," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/10).

Meski di sisi lain, pemulihan kondisi bursa saham global dan Asia sudah mulai terasa, namun rupiah belum berhasil menunjukkan penguatan yang signifikan. Selain itu, ia melihat nilai tukar rupiah saat ini sudah bisa dianggap sebagai 'posisi mentok' terhadap dolar AS, sehingga pergerakannya tidak begitu fluktuatif lagi.

"Kalau memang 'level mentok', ini sebenarnya peluang untu menguat lebih besar, daripada melemah lebih lanjut," pungkasnya. (agi)