BI Sebut Pembatasan Impor Turut Bikin Rupiah Perkasa

CNN Indonesia | Selasa, 06/11/2018 18:21 WIB
BI Sebut Pembatasan Impor Turut Bikin Rupiah Perkasa Ilustrasi nilai tukar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memandang kebijakan pembatasan impor yang dilakukan pemerintah turut andil dalam penguatan nilai tukar rupiah saat ini. Dalam kebijakannya, pemerintah membatasi impor dengan mengerek tarif Pajak Penghasilan (PPh) bagi sekitar 1.147 barang impor.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan dampak kebijakan tersebut setidaknya terlihat dari pertumbuhan impor yang melambat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan impor pada kuartal III 2018 tercatat sebesar 14,06 persen, melambat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 15,17 persen.

"Jadi sudah ada dukungan, meski sebenarnya kebijakan itu baru di September 2018, sehingga hasilnya belum begitu terasa, tapi mungkin lebih banyak di kuartal IV 2018," ujarnya di forum diskusi di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).


Meski begitu, Dody bilang, memang bayang-bayang impor masih ada, sekalipun diharapkan kebijakan pembatasan impor bisa lebih terasa di penghujung tahun. "Karena memang investasi dan infrastruktur itu masih terus berlangsung, tapi untuk impor nonstrategis, misalnya konsumsi itu sudah relatif lebih rendah," terangnya.


Di sisi lain, menurutnya, penguatan rupiah saat ini juga sedikit banyak didukung oleh fundamental ekonomi yang terus stabil, sehingga menambah kepercayaan investor untuk mengalirkan modalnya ke Tanah Air.

Ekonomi yang stabil itu, katanya, tercermin dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,17 persen pada kuartal III 2018. Menurutnya, sekalipun angka ini lebih rendah ketimbang kuartal II 2018 mencapai 5,27 persen, namun hal ini masih menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia yang masih meyakinkan karena tetap mampu tumbuh di kisaran 5 persen.

"Ini masih menunjukkan tingginya permintaan domestik, investasi, dan konsumsi masih besar. Ekonomi masih tumbuh, pertumbuhan kredit meningkat, dan sentimen terhadap keyakinan konsumen dan produsen positif," jelasnya.


Kendati begitu, Dody tak memungkiri bahwa penguatan rupiah akhir-akhir ini juga terjadi karena memanfaatkan momentum sentimen positif dari global. Salah satunya karena ada sinyal damai dari ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

"Semua berharap pertemuan Trump dan Xi Jinping memberikan paling tidak solusi yang positif, sehingga dampaknya juga positif ke mata uang negara berkembang, rupiah pun," ungkapnya.

Ke depan, BI memastikan bakal terus menjalankan fungsinya sebagai pengatur kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini, katanya, akan terus dilakukan dengan memainkan jurus pengaturan tingkat suku bunga acuan, intervensi di pasar uang dan surat utang, hingga nilai tukar rupiah.

Saat ini, di perdagangan pasar spot, rupiah berada di posisi Rp14.804 per dolar AS atau menguat 1,15 persen dari posisi kemarin. Sementara kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di Rp14.891 per dolar AS. (uli/agi)