Iran Menentang Sanksi AS, Harga Minyak Dunia Tertekan

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 07:18 WIB
Iran Menentang Sanksi AS, Harga Minyak Dunia Tertekan Ilustrasi kilang minyak. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot pada perdagangan Selasa (6/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi sehari setelah Gedung Putih memberi pengecualian pemberlakuan sanksi terhadap sejumlah negara konsumen utama minyak Iran.

Selain itu, penurunan harga juga terjadi setelah Iran menentang pengenaan sanksi AS dengan menyatakan sejauh ini masih bisa menjual minyak dengan bebas.

Dilansir dari Reuters, Rabu (7/11), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,04 atau 1,42 persen menjadi US$72,13per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung harga minyak acuan global ini sempat tertekan ke level US$71,18 per barel, terendah sejak 16 Agustus 2018.



Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,89 atau 1,41 persen menjadi US$62,21 per barel. Harga WTI sempat merosot ke level US$61,31 per barel, terlemah sejak 16 Maret 2018.

Iran menyatakan sejauh ini masih bisa menjual minyak sebanyak yang diperlukan, dan mendesak negara-negara di Eropa untuk menentang pengenaan sanksi oleh AS demi melindungi Iran.

Pada Senin (5/11) lalu, sanksi AS terhadap Iran berlaku efektif untuk sektor perminyakan, perbankan, dan transportasi. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyatakan Washington menargetkan ekspor minyak Iran bisa ditekan hingga nol.

Namun, pengecualian yang berlaku selama 180 hari diberikan kepada delapan negara impor minyak Iran yaitu China, India, Korea Selatan, Jepang, Italia, Yunani, Taiwan, dan Turki.


Data perdagangan menunjukkan negara-negara yang mendapatkan pengecualian sementara tersebut menguasai sekitar tiga perempat ekspor Iran yang melalui jalur laut. Artinya, Iran masih diperbolehkan mengekspor sebagian minyaknya untuk saat ini.

Pelaku industri memperkirakan ekspor minyak Iran telah merosot sekitar 40 hingga 60 persen sejak Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal mengenakan sanksi kepada Iran kembali pada Mei 2018 lalu. Namun demikian, pemberian pengecualian dapat mendongkrak ekspor Iran kembali usai November 2018.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Turki, salah satu importir utama minyak Iran, tidak akan terikat dengan sanksi yang dikenakan AS tersebut. Erdogan menyatakan sanksi tersebut mengarah pada ketidakseimbangan global.

Presiden Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch menyatakan pengenaan sanksi saja tidak akan mendongkrak harga minyak.



"Faktor sanksi kepada Iran saja tidak akan mampu mendorong harga minyak lebih tinggi tanpa bantuan besar dari penguatan baru di pasar modal, pelemahan kurs dolar AS yang berkelanjutan, atau pemangkasan signifikan produksi minyak Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC)," ujar Ritterbusch dalam catatannya yang dikutip Reuters.

Kekhawatiran terhadap permintaan minyak juga membebani pasar. Sengketa dagang antara AS dan China mengancam pertumbuhan ekonomi di dua perekonomian terbesar dunia tersebut. Pelemahan mata uang juga menekan perekonomian di Asia.

Di sisi pasokan, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan produksi minyak mentah AS diperkirakan bakal mencapai rata-rata 12,06 juta barel per hari (bph) pada 2019.

Artinya, produksi minyak Negara Paman Sam dapat menembus level 12 juta bph lebih cepat dari yang diperkirakan akibat kenaikan produksi minyak shale domestik.

Institut Perminyakan Amerika (API) mencatat persediaan minyak mentah AS naik sebesar 7,8 juta barel menjadi 432 juta barel pada pekan yang berakhir pada 2 November 2018. Angka tersebut melampaui proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 2,4 juta barel.


Produksi minyak tengah menanjak di tiga negara produsen minyak utama dunia. Total produksi minyak Rusia, AS, dan Arab Saudi mencapai lebih dari 33 juta bph untuk pertama kalinya pada Oktober lalu, cukup untuk memenuhi lebih dari sepertiga konsumsi minyak global yang hampir menyentuh 100 juta bph.

Arab Saudi telah memangkas harga minyak Arab Light Desember untuk konsumen Asia.

Kemarin, Morgan Stanley juga memangkas proyeksi harga Brent menjadi ke kisaran US$77,5 per barel pada pertengahan 2019.

Lebih lanjut, manajer investasi pekan lalu juga menjadi penjual bersih atas kontrak berjangka dan opsi komoditas minyak. (sfr/lav)