Pertamina EP 'Putar Otak' Tahan Penyusutan Produksi Migas

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 17:25 WIB
Pertamina EP 'Putar Otak' Tahan Penyusutan Produksi Migas Ilustrasi. (www.pertamina-ep.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak usaha PT Pertamina (Persero) di bidang eksplorasi dan produksi, PT Pertamina EP, mengaku berupaya menjaga tingkat produksi minyak dan gas bumi (migas) dari lapangan yang dikelolanya.

Salah satu caranya ialah memperbaiki fasilitas dan penggunaan teknologi baru. Perseroan juga meningkatkan teknologi injeksi seperti penggunaan Electrical Submersible Pump (ESP) dan Enhanced Oil Recovery (EOR).

Upaya tersebut tidak mudah mengingat sekitar 90 persen dari 300 lapangan migas yang dikelola perusahaan merupakan lapangan tua atau berusia di atas 40 tahun. Artinya, tingkat produksi secara alami telah memasuki fase menurun (decline).



Tak hanya itu, jumlah titik sumur bor atau lapangan produksi minyak yang dikelola perusahaan juga terus menurun selama enam tahun terakhir. Pada 2012, sumur bor perusahaan masih berada di 113 titik. Tahun ini, jumlahnya tinggal 50 titik.

"Tantangan terbesar adalah bagaimana mengatasi decline (penurunan produksi) dari lapangan yang eksisting," ujar Presiden Direktur Pertamina EP Nanang Abdul Manaf dalam forum produsen minyak dan gas bertajuk 'Making Money From Mature Fields' di Jakarta, Rabu (7/11).

Perusahaan, lanjut Nanang, sebenarnya telah berhasil menekan tingkat penurunan produksi dari 15 persen pada tahun 2015 menjadi 2,5 persen pada 2017, dan hingga Juli 2018 telah menanjak 5 persen.


"Artinya, 2018 ini ada titik balik dari trend menurun sekarang kami angkat," ujarnya.

Upaya menahan penurunan produksi dilakukan perusahaan menggunakan berbagai cara, utamanya dengan memperbaiki fasilitas dan penggunaan teknologi baru. Perseroan juga meningkatkan teknologi injeksi seperti penggunaan ESP dan EOR.

Upaya perseroan membuahkan hasil pada lapangan Sukowati di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di lapangan, perusahaan melakukan penambahan sumur injeksi dan revisi model reservoir, menyesuaikan dengan rencana pengembangan (PoD).

Meski lapangan tua, produksi lapangan minyak Sukowati tahun ini bisa meningkat. Per September lalu, produksi lapangan Sukowati telah menembus 10 ribu barel per hari (bph), meningkat dari rata-rata produksi di awal tahun ini yang tak sampai 7 ribu bph. Sebagai catatan, di masa puncaknya, produksi lapangan Sukowati bisa menembus 40 ribu bph.


"Sebenarnya, reservoir lapangan Sukowati sangat ideal sehingga tantangannya adalah bagaimana untuk menemukan minyak sampai optimum," ujarnya.

Untuk meningkatkan produksi, perusahaan juga terus melakukan kegiatan eksplorasi. Tahun ini, dari US$637 juta alokasi investasi perseroan, sekitar 20 persen dialokasikan untuk eksplorasi. Namun, proses untuk menemukan minyak memakan waktu dan biaya yang besar. Karenanya, perusahaan lebih banyak berinvestasi pada lapangan eksisting.

Di tempat yang sama, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi terus mendorong perusahaan minyak untuk mengerek produksi dan menemukan cadangan minyak baru.

Selama ini, pencarian lapangan minyak baru di Indonesia sebenarnya terus dilakukan namun hasilnya belum memuaskan. Sementara,konsumsi BBM masih di atas produksi sehingga memaksa Indonesia untuk mengimpor minyak.


"Indonesia ini berisiko. Konsumsi naik terus, impor BBM jalan terus tetapi penemuan cadangan tidak nongol-nongol. Nongol tapi kecil-kecil," ujar Amien.

Maka itu, perusahaan perlu menyiasati dengan berinovasi dalam memaksimalkan produksi dari lapangan-lapangan tua. Setidaknya, perusahaan bisa menahan laju penurunan produksi. (sfr/lav)