Produksi Minyak AS Catatkan Rekor, Harga Minyak Dunia Merosot

CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 07:18 WIB
Produksi Minyak AS Catatkan Rekor, Harga Minyak Dunia Merosot Harga minyak dunia kembali merosot pada perdagangan Rabu (7/11), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu kenaikan produksi minyak mentah AS yang mencatatkan rekor. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia kembali merosot pada perdagangan Rabu (7/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi menyusul kenaikan produksi dan pasokan minyak mentah AS yang mencatatkan rekor.

Dilansir dari Reuters, Kamis (8/11), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun US#0,54 menjadi US$61,67 per barel. Harga tersebut merosot hampir 20 persen sejak menyentuh level tertinggi penutupan yakni sebesar US$76,41 per barel yang terjadi pada awal Oktober lalu.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent melemah tipis sebesar US$0,06 menjadi US$72,02 per barel. Pelemahan sedikit tertahan setelah hadirnya pemberitaan terkait Rusia dan Arab Saudi yang sedang membicarakan kemungkinan pemangkasan produksi tahun depan.



"Pasar belum bisa membuktikan dapat bertahan dalam reli (harga), sehingga kondisi jangka pendek masih sangat negatif," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago seperti dikutip Reuters.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah domestik naik 5,8 juta barel pada pekan terakhir, lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sejumlah analis.

Kemudian, produksi minyak mentah AS juga menyentuh level 11,6 juta barel per hari (bph) yang merupakan rekor mingguan. Data bulanan terakhir pada Agustus 2018 menunjukkan produksi minyak AS telah di atas 11,3 juta bph.


Sementara itu, ekspor minyak Iran diperkirakan bakal merosot setelah sanksi AS berlaku efektif pada Senin (5/11) lalu. Laporan dari Organisasi Negara dan Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah prediksi lain mengindikasikan pasar minyak global bakal mengalami surplus pada 2019, seiring perlambatan permintaan.

Selain itu, AS juga mengabulkan permohonan pengecualian pengenaan sanksi Iran terhadap delapan negara pengimpor minyak Iran.

"Saat ini pasar akan melihat produsen dari OPEC maupun non OPEC untuk mengendalikan produksi, mengingat AS telah memberi pengecualian pemberlakuan sanksi kepada delapan negara yang pada dasarnya ingin menambah pasokan," ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow di Houston.

Berdasarkan pemberitaan kantor berita Rusia TASS yang dikutip Reuters, Rusia dan Arab Saudi telah memulai pembicaraan secara bilateral mengenai kemungkinan pemangkasan produksi kembali tahun depan.


Pada Juni lalu, kelompok produsen minyak tersebut memutuskan untuk merelaksasi kesepakatan pemangkasan produksi yang telah berjalan sejak awal 2017. Hal itu dilakukan setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

Sejumlah analis memperkirakan negara produsen minyak ingin memangkas produksi saat ini, setelah pemilihan tengah periode AS rampung. Trump sebelumnya telah mengeluhkan harga bensin yang semakin mahal.

"OPEC merasakan tekanan Trump, namun produsen mengambil langkah dengan pertimbangan bahwa mereka hanya perlu melewati pemilihan tengah periode," ujar Analis Hedgeye Joe McMonigle dalam catatannya.


McMonile memperkirakan akhir pekan ini akan bermunculkan komentar publik dari para menteri negara-negara anggota OPEC terkait pemangkasan produksi kembali.

Komite para menteri yang terdiri dari beberapa anggota OPEC dan sekutunya akan bertemu untuk membahas proyeksi 2019 di Abu Dhabi pada Minggu (11/11) mendatang. (sfr/lav)