Dituding Mentan, Pedagang Sebut Mustahil Curangi Harga Beras

CNN Indonesia | Jumat, 09/11/2018 19:26 WIB
Dituding Mentan, Pedagang Sebut Mustahil Curangi Harga Beras Ilustrasi beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) membantah tudingan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang menyebut kenaikan harga beras medium disebabkan perilaku curang pedagang.

Amran sebelumnya menuding aksi pedagang beras yang mengenakan harga premium untuk beras dengan kualitas medium sebagai penyebab melejitnya harga beras.

Zulkifly Rasyid, Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang mengatakan beras premium dan medium dapat dibedakan secara kasat mata sehingga mustahil bagi pedagang untuk menipu pembeli. Salah satu perbedaan yang cukup mencolok adalah jumlah butir patah untuk beras medium sebesar 25 persen, sedangkan premium sebesar 15 persen.


"Medium kualitas kurang bagus, baik warna dan biji kuning dan hitam ada. Kalau premium kan kelas nomor wahid. Ya mustahil dong," ujar Zulkifly, Jumat (9/11).


Zulkifly menegaskan kenaikan harga beras berkualitas medium dalam satu bulan terakhir karena harga gabah di daerah yang sudah melejit. Dengan begitu, tidak mungkin bagi pedagang menjual beras medium dengan harga normal, yakni Rp8.000-Rp9.000 per kilogram (kg).

"Kalau di daerah hasil panen bagus, gabah dijual Rp5.500 per kg, kalau jadi harga beras kan Rp10.500-11 ribu per kg. Mana ada medium-nya itu," tegas Zulkifly.

Saat ini, Zulkifly menyebut tak memiliki beras dengan kualitas medium karena stoknya di daerah menipis. Walhasil, toko milik Zulkifly saat ini hanya menjual beras berkualitas premium yang dibanderol sekitar Rp10.500-Rp12 ribu per kg.

"Masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) beras premium yang sebesar Rp12.800 per kg," jelas Zulkifly.

Dituding Mentan, Pedagang Sebut Mustahil Curangi Harga BerasIlustrasi beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Senada, pedagang beras di Cipinang lainnya, Yono mengatakan harga beras medium menjulang tinggi karena harga dari daerah juga sudah naik dari biasanya. Namun, Yono sedikit lebih beruntung karena masih memiliki stok beras berkualitas medium.

"Proporsinya 80 persen untuk premium, lalu untuk mediumnya 20 persen," ucap Yono.

Kendati demikian, ia harus mengeluarkan kocek lebih karena kenaikan harga gabah di daerah. Menurut Yono, untuk harga beras medium saja ia harus membayar Rp9.000 per kg. Makanya, ia mempertanyakan tudingan Amran.

"Harganya sekarang jadi lebih dari Rp9.000 per kg, bahkan sampai hampir Rp10 ribu per kg," jelas Yono.


Ketimbang menuding pedagang, Yono meminta Amran mengecek langsung kondisi harga gabah di berbagai daerah. Ia menentang keras pernyataan Amran yang menyebut terdapat pedagang beras yang nakal dengan menjual beras premium dengan kualitas medium.

"Pak Amran tolong deh cek ke daerah, ini bukan pedagang beras di Cipinang yang nakal tapi karena gabah di daerah sudah naik," tutur Yono.

Sebelumnya, Amran enggan menjawab pertanyaan wartawan terkait kenaikan harga gabah di daerah. Ia kekeh menekankan kenaikan harga akibat persoalan rantai pasok distribusi beras.

Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), harga gabah kering panen (GKP) per Oktober 2018 naik 0,98 persen dan harga gabah kering giling (GKG) naik 1,26 persen. Dengan demikian, harga GKP bulan lalu sebesar Rp4.937 per kg dan GKG menjadi Rp5.467 per kg. (aud/agi)