Harga Minyak Anjlok 7 Persen Terseret Wall Street

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 07:08 WIB
Harga Minyak Anjlok 7 Persen Terseret Wall Street Ilustrasi harga minyak. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia terjerembab sekitar tujuh persen pada perdagangan Selasa (13/11), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan masih disebabkan oleh kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan dan sentimen pelemahan permintaan global, serta melemahnya bursa saham Wall Street.

Dilansir dari Reuters, Rabu (14/11), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$4,24 atau 7,1 persen menjadi US$55,69 per barel. Persentase penurunan harian tersebut merupakan yang terbesar sejak September 2015.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$4,65 atau 6,6 persen menjadi US$65,47 per barel. Penurunan harian Brent merupakan yang terbesar sejak Juli 2018.


Pergerakan indeks saham Wall Street tadi malam juga berbalik arah tersungkur karena kemungkinan memanasnya pembahasan perdagangan antara AS dan China. Sementara, harga saham dan harga minyak cenderung bergerak searah.


Indeks saham acuan S&P 500 ditutup melemah 0,15 persen menjadi 2.722,18 seiring pelemahan saham-saham energi karena merosotnya harga minyak mentah berjangka Brent dan WTI. Indeks rata-rata industri Dow Jones juga turun 100,69 poin atau 0,4 persen menjadi 25.286,49.

Di awal sesi perdagangan, indeks saham AS sempat terkerek setelah Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyatakan AS telah memulai kembali pembicaraan terkait perdagangan dengan China. Kudlow juga menyebut perkembangannya sangat positif.

Harga minyak mentah AS menyetuh level terendahnya tahun ini. Sementara, Brent melanjutkan pelemahan di awal pekan yang dipicu oleh komentar Presiden AS Donald Trump yang menekan Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) untuk tidak memangkas produksi demi mendongkrak harga.

Kedua harga acuan telah merosot lebih dari 20 persen sejak menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir yang dicapai pada awal Oktober 2018 lalu. Penurunan harga minyak mendapatkan respon negatif dari Wall Street.

"Pasar tidak menyukai pergerakan liat dari kelas aset," ujar Kepala Strategi Pasar SunTrust Advisory Services Keith Lerner di Atlanta.


Menurut Lerner, harga yang rendah menguntungkan konsumen namun akan menyakiti perusahaan energi yang proyeksi pendapatannya telah menanjak selama tahun lalu. Selain itu, rendahnya harga juga bisa berpengaruh pada turunnya belanja modal.

"Jika Anda melihat aksi di pasar hari ini, itu mencerminkan ketidakyakinan dan kurangnya arah," ujar Kepala Strategi Pasar Bruderman Asset Management Oliver Pursche di New York.

Sementara itu, indeks dolar AS tergelincir 0,2 persen namun tetap di sekitar level tertinggi dalam 16 bulan terakhir yang dicapai pada awal pekan ini.

Sebelumnya, indeks dolar AS telah menanjak akibat eskalasi perang dagang antara AS-China. Sebagai catatan, menguatnya indeks dolar AS akan membuat harga minyak di mata konsumen dengan mata uang lain menjadi relatif lebih maha (sfr/agi)