Rupiah Tetap Menguat saat Mata Uang Asia Rontok dari Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 16:51 WIB
Rupiah Tetap Menguat saat Mata Uang Asia Rontok dari Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.786 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Rabu (14/11). Posisi ini menguat 18 poin atau 0,12 persen dari kemarin sore, Selasa (13/11) di Rp14.804 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.755 per dolar AS atau menguat dari kemarin sore di Rp14.895 per dolar AS.

Di kawasan Asia, penguatan rupiah menempati posisi kedua, setelah rupee India yang menguat hingga 0,62 persen. Lalu, diikuti renminbi China yang menguat 0,05 persen.



Sedangkan mata uang Asia lainnya justru rontok dari dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,15 persen, baht Thailand minus 0,15 prsen, dan peso Filipina minus 0,13 persen.

Kemudian, won Korea Selatan minus 0,09 persen, ringgit Malaysia minus 0,08 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,03 prsen. Sementara yen Jepang stagnan.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas tertunduk lesu dari dolar AS. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,29 persen dari dolar AS.


Dolar Australia melemah 0,37 persen franc Swiss minus 0,18 prsen, euro Eropa minius 0,11 persen, dolar Kanada minus 0,07 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,05 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan penguatan rupiah hari ini memang terlihat mengagetkan. Sebab, mayoritas mata uang Asia lain justru melemah dari mata uang Negeri Paman Sam.

Apalagi, indeks dolar AS sejatinya tengah menguat karena ditopang oleh beberapa sentimen, khususnya dari Eropa, misalnya belum ada kepastian lanjutan dari proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit).


"Kemudian, Italia juga masih bersikukuh meminta defisit anggaran sebesar 2,4 persen. Lalu, malam ini sebenarnya ada rilis inflasi AS. Jadis seharusnya dari eksternal justru menekan rupiah, tapi tidak terjadi," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/11).

Dini menilai sentimen yang menyelamatkan pergerakan mata uang Garuda hari ini justru datang dari dalam negeri, yaitu antisipasi pasar terhadap rilis data neraca perdagangan dan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada esok hari.

Ia bilang, hasil konsensus pasar sementara ini memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan kembali mengalami defisit sekitar US$0,17 miliar. Sementara tingkat bunga acuan BI yang akan diumumkan pada RDG diperkirakan tetap ditahan.


"Tapi dengan neraca perdagangan yang defisit dan transaksi berjalan yang juga defisit, ada harapan pasar kalau BI bisa mengupayakan hal lain. Karena dari luar, bunga The Fed akan dinaikkan pada bulan depan, itu tidak bisa dihindari," katanya.

Untuk esok hari, Dini memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.560-14.960 per dolar AS sebagai antisipasi dari rilis neraca perdagangan dan tingkat bunga acuan bank sentral nasional. (uli/lav)