Rupiah Paling Melempem di Asia ke Posisi 14.820 per Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 16:44 WIB
Rupiah Paling Melempem di Asia ke Posisi 14.820 per Dolar AS Ilustrasi dolar AS dan rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.820 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (12/11). Posisi ini melemah 142 poin atau 0,97 persen dari Jumat (9/11).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.747 per dolar AS atau melemah dari akhir pekan lalu di Rp14.632 per dolar AS.

Di kawasan Asia, pelemahan rupiah merupakan yang terdalam. Diikuti rupee India minus 0,66 persen, won Korea Selatan minus 0,5 persen peso Filipina minus 0,32 persen, dan dolar Singapura minus 0,29 persen.


Kemudian, ringgit Malaysia melemah 0,22 persen, baht Thailand minus 0,19 persen, yen Jepang minus 0,16 persen, renminbi China minus 0,14 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,02 persen.


Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas mata uang turut bersandar di zona merah. Poudsterling Inggris melemah 0,95 persen, euro Eropa minus 0,67 persen, dolar Australia minus 0,42 persen, dan franc Swiss minus 0,33 persen. Namun, dolar Kanada dan rubel Rusia bersandar di zona hijau, dengan menguat masing-masing 0,05 persen dan 0,72 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh banyak sentimen dari luar negeri. Sentimen tersebut datang dari politik anggaran pemerintah Italia, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit), hingga sikap bank sentral AS, The Federal Reserve yang tetap agresif atau hawkish mengerek bunga acuan pada bulan depan.

Dari Italia, Komisi Eropa sejatinya memberi waktu tenggat perubahan penyusunan anggaran pemerintah Italia pada Selasa besok (13/11) waktu setempat. Namun, hingga saat ini banyak pihak menilai pemerintah Italia masih enggan mengubah penyusunan anggaran yang menempatkan defisit hingga 2,4 persen.

Kemudian, dari Brexit, sampai saat ini belum ada perkembangan terbaru dari proses negosiasi keluarnya Inggris dari zona Eropa. "Hal ini membuat euro Eropa dan poundsterling Inggris turun tajam, sehingga membuat indeks dolar AS justru menguat tajam," ucap Dini kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/11).


Tak ketinggalan, sentimen eksternal juga masih terasa dari The Fed. Meski bank sentral AS menahan tingkat bunga acuan untuk bulan ini pada akhir pekan lalu, namun pada bulan depan, para anggota komite tetap optimis dapat mengerek bunga acuan.

Lebih lanjut, pelemahan rupiah menjadi yang terburuk di kawasan Asia karena dari dalam negeri, rilis data neraca transaksi berjalan kembali mencatatkan defisit. Bahkan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) membengkak menjadi US$8,8 miliar atau 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2018 dari sebelumnya 3 persen dari PDB di kuartal II 2018.

"Jadi dari luar dan dalam ada katalis negatif untuk rupiah hari ini. Selama indeks dolar AS menguat, rupiah masih ada potensi melemah," imbuhnya.

Ke depan, Dini melihat pergerakan rupiah berpotensi kembali ke posisi Rp15.000 per dolar AS bila berbagai sentimen negatif tersebut terus menekan rupiah. Tekanan akan tertahan bila ada upaya dari Bank Indonsia (BI) dan pemerintah untuk menahan laju pelemahan rupiah.


Sementara untuk hari esok, Dini memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.660-14.940 per dolar AS. Sedangkan untuk sepanjang pekan ini, rupiah diproyeksi berada di rentang Rp14.570-15.040 per dolar AS.

Untuk pergerakan sepekan, mata uang Garuda akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen dari dalam negeri. Salah satunya, rilis data neraca perdagangan oleh Badan Pusat StatistiK (BPS) pada 15 November 2018 dan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 16 November 2018.
(uli/agt)