Hingga pukul 08.55 WIB, rupiah terus bergerak melemah hingga ke posisi Rp14.878 per dolar AS.
Di kawasan Asia, rupiah bersandar di zona merah bersama won Korea Selatan minus 0,45 persen, ringgit Malaysia minus 0,2 persen, peso Filipina minus 0,12 persen, dan dolar Singapura minus 0,02 persen. Sementara dolar Hong Kong stagnan, sedangkan baht Thailand dan yen Jepang menguat 0,06 persen dan 0,08 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada hari ini karena sejumlah sentimen eksternal yang menguatkan dolar AS diperkirakan masih berlanjut pada hari ini.
"Peningkatan permintaan dolar AS tuurt didorong oleh aksi lepas euro Eropa dan poundsterling Inggris oleh pelaku pasar. Di sisi lain, meningkatnya permintaan dolar AS cenderung menghalangi rupiah untuk berbalik naik," ujar Reza, Selasa (13/11).
Lihat juga:IHSG Diramal Berbalik Arah ke Zona Hijau |
Di sisi lain, pergerakan rupiah tak mampu ditahan oleh sentimen dari dalam negeri. Misalnya, sentimen dari rencana pemerintah yang akan mengeluarkan sejumlah sektor industri dari Daftar Negatif Investasi (DNI) demi menarik investor dan aliran modal ke Indonesia.
Rencananya, pada hari ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution akan memimpin rapat koordinasi untuk membahas lebih lanjut rencana perubahan DNI.
Selain itu, rilis defisit transaksi berjalan (Current Accont Deficit/CAD) yang kembali membengkak, turut menambah lemahnya daya tahan rupiah. Defisit transaksi berjalan menembus US$8,8 miliar atau 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2018. (agi)