Neraca Dagang Jeblok, Jonan Salahkan Kinerja Ekspor

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 20:35 WIB
Neraca Dagang Jeblok, Jonan Salahkan Kinerja Ekspor Menteri ESDM Ignasius Jonan heran masalah defisit neraca dagang selalu dibebankan pada impor migas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan tak ingin bengkaknya impor minyak dan gas bumi (migas) selalu dijadikan kambing hitam penyebab defisit neraca perdagangan. Pasalnya, ia menilai defisit neraca perdagangan terjadi karena ekspor produk non migas yang belum optimal.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Oktober 2018 membengkak 31,78 persen secara tahunan menjadi US$2,9 miliar. Akibatnya, defisit migas membengkak hampir dua kali lipat dari US$718 juta pada Oktober 2017 menjadi US$1,43 miliar pada bulan yang sama tahun ini.

Adapun defisit neraca perdagangan secara keseluruhan mencapai US$1,82 miliar. Padahal, Oktober 2017, neraca perdagangan masih surplus US$1 miliar.



"Pertanyaan saya begini, Jepang punya gas tidak? Punya minyak enggak? Enggak. Impor minyak dan gasnya jauh lebih lebih besar dari Indonesia tetapi ekspornya produk lainnya besar. Kita, mestinya begitu," ujar Jonan usia menghadiri peluncuran Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) di Hotel Pullman Thamrin Jakarta, Kamis (15/11).

Jonan mengungkapkan membengkaknya impor migas Oktober terjadi karena harga minyak yang menanjak. Secara volume, impor migas Oktober lalu turun 4,47 persen menjadi 4,3 juta ton.

"Kalau harga minyak mentah naik itu harga produk Bahan Bakar Minyak (BBM) juga naik. Kita impor kira-kira mungkin sekitar 500 ribu sampai 600 ribu barel per hari, baik crude maupun produk. Ya pasti nilainya naik," ujarnya.
Neraca Dagang Jeblok, Jonan Salahkan Kinerja EksporFoto: CNN Indonesia/Hesti Rika

Jonan mengingatkan minyak merupakan bahan produksi dalam perspektif yang lebih luas. Artinya, penggunaan minyak seharusnya bisa menghasilkan produk lain yang bisa diekspor.

Sejumlah negara yang mengandalkan pasokan migas dari impor seperti Jepang, Singapura, China, neraca perdagangannya bisa tetap sehat karena tingginya impor migas diimbangi oleh kemampuan ekspor yang tinggi.

"Kan impor minyak tidak untuk diminum. Ini sebagai alat produksi. Walaupun digunakan oleh konsumen tetapi untuk berkegiatan. Berkegiatan ini yang harus menghasilkan nilai ekspor yang lain," ujarnya.
(sfr/agt)