Gejolak Brexit Bikin Nilai Tukar Poundsterling Melorot

CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 16:07 WIB
Poundsterling kesulitan mempertahankan nilai tukarnya setelah mengalami gejolak dalam kurun waktu sehari, dipicu kekhawatiran investor terkait british exit. Poundsterling kesulitan mempertahankan nilai tukarnya setelah mengalami gejolak dalam kurun waktu sehari, dipicu kekhawatiran investor terkait british exit. (REUTERS/Phil Noble).
Jakarta, CNN Indonesia -- Poundsterling kesulitan mempertahankan nilai tukarnya setelah mengalami gejolak dalam kurun waktu sehari. Kebijakan Inggris yang menarik diri dari Uni Eropa ditengarai membuat para investor khawatir dengan keadaan politik di kawasan tersebut.

Dilansir dari Reuters, nilai tukar Poundsterling melorot 1,7 persen pada perdagangan Kamis (15/11), dan menjadi penurunan tertajam sejak 11 Oktober 2016 lalu. Pada akhirnya, pelemahan poundsterling menguntungkan dolar Amerika Serikat (AS) dan yen.

Pengunduran diri para menteri utama dari pemerintahan era Perdana Menteri Inggris Theresa May memicu kekhawatiran karena dianggap akan membahayakan rencana Inggris keluar dari Uni Eropa atau biasa dikenal dengan istilah British Exit (Brexit).



"Masalah politik tidak pernah baik untuk mata uang tapi dalam kasus Inggris, poundsterling bisa turun hingga 1,25 terhadap dolar AS jika tidak ada kesepakatan lanjutan setelah Inggris keluar," ujar Direktur Strategi Mata Uang BK Asset Management Kathy Lien mengutip dari Reuters, Jumat (16/11).

Pengunduran diri, termasuk keputusan Menteri Brexit Dominic Raab datang beberapa jam setelah May mengklaim mendukung perjanjian pemisahan Inggris dari Uni Eropa tersebut. Perdebatan antara pemerintah dan anggota parlemen opisisi menimbulkan risiko kesepakatan akan ditolak parlemen, dan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa tanpa jaring pengaman.

Theresa May berencana untuk kompromi dan menjaga hubungan perdagangan dengan Uni Eropa di masa mendatang. Hal itu ditentang oleh beberapa pihak, termasuk para menteri yang mengundurkan diri. Hal itu membahayakan posisi pemimpin yang menggantikan David Cameron pada 2016 tersebut.


Tanpa kesepakatan lanjutan, Inggris akan mengalami perubahan kebijakan perdagangan dengan Uni Eropa dari semula perdagangan tanpa batas menjadi pengaturan bea cukai. Aturan yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan mulai berlaku pada Maret 2019 itu menyebabkan kepanikan di pasar keuangan.

Beberapa analis meyakini nilai tukar Poundsterling masih dapat menguat, bergantung pada kebijakan dalam referendum Brexit.

"Referendum kedua mungkin akan menghasilkan suara yang jelas untuk tetap bertahan, ini hasil yang positif untuk nilai tukar," kata Adam Cole, Kepala Strategi Mata Uang RBC.


Sebagai informasi, nilai tukar Yen laris sebagai aset aman (safe haven) dan memberi tawaran yang baik dalam perdagangan Asia. Sebelumnya, Yen sempat mencapai nilai terendahnya dalam enam pekan terakhir di 114,20 pada Senin (12/11) lalu. (mjs/lav)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK