EDUKASI KEUANGAN

Jeli Ambil Peluang Investasi Sukuk dan Produk Syariah

CNN Indonesia | Sabtu, 17/11/2018 11:20 WIB
Jeli Ambil Peluang Investasi Sukuk dan Produk Syariah Ilustrasi. (REUTERS/Garry Lotulung).
Jakarta, CNN Indonesia -- Layar video via internet menjadi sumber inspirasi bagi pegiat usaha rintisan (start up) Muhammad Hafizh untuk mulai berinvestasi pada instrumen sukuk tabungan.

Pria kelahiran Jakarta itu mengaku menginvestasikan sejumlah dananya pada sukuk tabungan 002 karena mendapat informasi via media sosial platform video, Youtube. Saat menonton pertama kali, ia mengaku terpikat pada imbal hasil yang tinggi dan risiko yang minim karena memperoleh jaminan pemerintah.

"Awal mula tahu investasi sukuk 002 itu dari Youtube, ada video yang kasih informasi dasar soal sukuk, lalu jadi tertarik karena kelihatannya aman," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/11).



Hafizh mengaku tak terlalu peduli dengan jenis instrumen yang dipilih, baik konvensional atau berbasis syariah yang identik dengan investasi halal, karena tak berpengaruh apa-apa pada dirinya.

Menurut dia, hal terpenting yang lebih dipertimbangkan adalah instrumen investasinya minim risiko. Selain itu, ia juga memilih instrumen investasi berdasarkan tujuan penggunaan dananya. Hafizh merasa perlu memperhatikan tujuan penggunaan dana karena ingin berkontribusi pada hal-hal positif.

"Bunganya lumayan 8 persen lebih, nilainya juga terjangkau minimal Rp1 juta. Lagipula dana sukuk tabungan katanya mau dipakai untuk membangun infrastruktur, produktif. Jadi saya merasa perlu berkontribusi dengan berinvestasi," sambungnya.

Pemerintah sudah resmi menawarkan Sukuk Tabungan seri ST 002 dengan imbal hasil yang menggiurkan hingga 8,3 persen per tahun. Bisa dikatakan, imbal hasil ini merupakan yang tertinggi dari surat berharga ritel terbitan pemerintah sepanjang 2018.


Sebelumnya, surat berharga ritel dengan imbal hasil tertinggi dicatat oleh Savings Bond Ritel (SBR) 004 dengan imbal hasil 8,05 persen. Hanya saja, tak semua orang mengenal instrumen investasi tersebut.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Sukuk Tabungan seri ST 002 merupakan instrumen investasi dengan suku bunga mengambang (floating rate) tergantung pergerakan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR). Dalam perhitungannya, ST 002 memiliki formulasi BI 7 Days RRR sebesar 5,75 persen ditambah spread sebesar 2,55 persen.

Jika nantinya BI 7DRRR meningkat, sudah tentu imbal hasil ST 002 meningkat. Namun, jika suku bunga BI 7DRRR mengempis, maka imbal hasil ST 002 tidak akan jatuh ke bawah 8,30 persen, karena menganut sistem suku bunga mengambang.


Perencana Keuangan dari Zelts Consulting Ahmad Gozali menjelaskan suku bunga yang mengambang ini merupakan kelebihan dari ST 002 dibanding instrumen lain. Terlebih, instrumen dengan suku bunga tetap (fixed income) seperti sukuk fixed income dan Reksa Dana Penyertaan Tetap (RDPT) dianggap sedang turun nilainya.

"Dengan ST 002, investor jadi punya alternatif investasi syariah fixed income yang menarik dengan imbal hasil 8,3 persen dibandingkan sukuk sebelumnya yang di bawah itu. Di tengah tren kenaikan suku bunga saat ini, kehadiran ST002 tentu sangat menarik," jelas Ahmad.

Di samping itu, sistem bunga mengambang membuat imbal hasil yang diterima bisa mengikuti suku bunga acuan yang terus meningkat. Instrumen investasi ini cocok bagi masyarakat dengan modal minim, karena masyarakat bisa berinvestasi dengan minimum pemesanan Rp1 juta hingga Rp3 miliar.


Dengan mengikuti skema seperti ini, jangan pernah takut ST 002 tidak mengikuti konsep syariah sama sekali. Sukuk seri kedua ini dicap tidak mengandung unsur judi (maysir), ketidakjelasan (gharar), dan riba serta dinyatakan sesuai syariah oleh Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

"ST ini floating rate sehingga bisa mengikuti tren kenaikan suku bunga yang dikhawatirkan terjadi jika rupiah melemah kembali terhadap dolar AS," paparnya.

Imbal hasil sukuk tabungan ST 002 memang terlihat menggiurkan. Namun, bukan berarti seluruh instrumen investasi syariah adalah instrumen paling menguntungkan di antara instrumen investasi lainnya. Sebab, kadang yang terjadi adalah sebaliknya.


Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan ada kalanya imbal hasil investasi syariah lebih kecil. Reksa dana syariah, misalnya, punya nilai imbal hasil 5 persen hingga 10 persen lebih kecil dibanding reksa dana konvensional. Apalagi, pilihan produknya pun cukup terbatas dan belum begitu berkembang di Indonesia.

Meski demikian, ia menganggap risiko investasi syariah ini lebih kecil dibanding konvensional seiring syarat yang ketat. Menurut dia, himpunan dana masyarakat ini tidak akan lari ke perusahaan abal-abal karena investasi syariah memberlakukan syarat-syarat keuangan tertentu.

Sebagai contoh, perusahaan penerbit saham syariah harus memiliki total utang yang berbasis bunga tidak boleh lebih dari 82 persen dari total ekuitas. Selain itu, total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya tidak boleh lebih dari 10 persen ketimbang total pendapatan. Dan khusus untuk sukuk yang diterbitkan pemerintah, tentu proyek-proyek pemerintah harus dijadikan sebagai underlying asset.


"Risiko syariah ini memang lebih rendah, karena keharusan utangnya juga lebih rendah. Selain itu, bisnisnya kan juga harus halal, ya memang risikonya lebih rendah. Tapi kadang kenyataannya, kalau nilai saham syariah lagi turun, turunnya tinggi banget," ujarnya.

Meski masih terbatas, ia meyakini tren investasi syariah ke depan akan semakin diserbu bak kacang goreng. Sebab, semakin banyak orang menyadari bahwa dibutuhkan keseimbangan antara dunia dan akhirat dan lebih menekankan sisi keamanan investasi.

Bahkan, investasi syariah ini disebutnya mulai digandrungi negara maju seperti Inggris seiring meningkatnya kesadaran akan investasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Muslim sadar, walau pun return lebih kecil tapi ya tidak masalah. Sekarang juga di sekuritas banyak pilihannya, dan perbankan juga banyak yang menawarkan produk syariah," pungkas dia. (glh/lav)


BACA JUGA