Harga BBM Diproyeksi Naik Usai Pilpres Tahun Depan

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 16:03 WIB
Harga BBM Diproyeksi Naik Usai Pilpres Tahun Depan Ilustrasi harga BBM. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal memproyeksikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik pada 2019 mendatang. Proyeksi kenaikan harga BBM tersebut seiring dengan minimnya alokasi anggaran subsidi energi dalam APBN 2019.

"Kami tidak berharap naik, tapi itu sudah tercermin dari APBN 2019. Logikanya, kalau mau mempertahankan harga bbm saja, subsidinya bukan tetap. Tetapi, harus naik. Karena, harga minyak trennya naik. Kalau dia (subsidi) turun, itu berarti mencerminkan kenaikan," ujarnya di Jakarta, Rabu (21/11).

Sekadar mengingatkan, pemerintah dan Badan Anggaran DPR RI sebelumnya sepakat nilai subsidi energi pada 2019 sebesar Rp157,7 triliun.


Nah
, berkaca dari subsidi energi tahun ini, anggarannya membengkak jauh dari APBN yang ditetapkan. Hal itu dikarenakan harga minyak dunia meningkat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Hingga Oktober 2018, realisasi belanja subsidi energi telah mencapai Rp117,4 triliun atau melonjak 77,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Menurut Faisal, kenaikan harga BBM nanti dapat dirasakan setelah tahun politik berakhir atau pasca pemilihan presiden. Sebab, risiko politik dari kenaikan harga BBM ini sudah tidak ada bagi pengambil kebijakan.


Namun, ia mengingatkan kenaikan harga BBM akan menjadi kendala bagi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Di sisi lain, potensi kenaikan harga BBM dapat mempengaruhi sektor manufaktur, terutama terhadap biaya produksi.

"Semoga saja tidak ada kenaikan (BBM) karena akan berpengaruh pada biaya produksi sektor manufaktur," imbuh Ekonom CORE Ina Primiana.


CORE menargetkan pertumbuhan manufaktur pada 2019 akan tumbuh secara marjinal dalam rentan persentase 4,26 persen hingga 4,3 persen.

Terkait dengan hal itu, ia juga memprediksikan laju inflasi di Indonesia dapat mencapai 4 hingga 5 persen. Menurutnya, hal itu dapat terjadi karena konsumsi dalam negeri dapat terganggu dengan kenaikan harga BBM.

Menurutnya, persentase itu lebih kecil jika dibandingkan inflasi pada 2014 silam yang mencapai 8 persen karena kenaikan BBM bersubsidi.

"Dampaknya terhadap inflasi tidak akan sampai 8 persen seperti tahun 2014. Tapi tetap akan mendorong inflasi ke angka 4 persen atau 5 persen," tandasnya.


(mjs/bir)