Rupiah dan Mata Uang Asia Manfaatkan Momen Pelemahan Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 17:13 WIB
Rupiah dan Mata Uang Asia Manfaatkan Momen Pelemahan Dolar AS Ilustrasi nilai tukar. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.580 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Kamis (22/11). Posisi ini menguat 22 poin atau 0,15 persen dari kemarin sore, Rabu (21/11) di Rp14.602 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah berada di posisi Rp14.592 per dolar AS atau menguat dari kemarin sore di Rp14.618 per dolar AS.

Bersama rupiah, beberapa mata uang Asia turut menguat. Rupee India menguat 0,52 persen, won Korea Selatan 0,17 persen, yen Jepang 0,13 persen, dan dolar Hong Kong 0,03 persen.



Namun, ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, dolar Singapura minus 0,07 persen, peso Filipina minus 0,08 persen, renminbi China minus 0,13 persen, dan baht Thailand minus 0,28 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat dari dolar AS. Rubel Rusia menguat 0,25 persen, euro Eropa 0,18 persen, franc Swiss 0,12 persen, dan poundsterling Inggris 0,05 persen.

Hanya dolar Australia dan dolar Kanada yang melemah dari mata uang Negeri Paman Sam, dengan masing-masing minus 0,26 persen dan minus 0,07 persen.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah hari ini cenderung menguat tipis sejalan dengan pelemahan dolar AS. Sementara dolar AS kini cenderung melemah karena tidak ada sentimen baru yang bisa menggerakkan.


Menurutnya, sentimen untuk pergerakan dolar AS baru akan terjadi pada akhir bulan ini jelang rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang belum ada kepastian.

"Sepertinya sampai akhir bulan ini, pergerakan dolar AS dan rupiah akan terus terbatas, sampai ada hal baru dari pertemuan kedua pimpinan negara," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/11).

Di sisi lain, penguatan beberapa mata uang utama negara maju juga berhasil menekan pergerakan dolar AS, di mana hal ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa mata uang Asia, termasuk rupiah.

Sedangkan dari dalam negeri, sentimen pendorong rupiah juga belum terlihat karena diperkirakan baru ada pada awal bulan depan, yaitu rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Tak ketinggalan, rilis data neraca perdagangan dan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pertengahan bulan depan. (uli/agi)