Sri Mulyani Sebut Rakyat Punya Ikatan Emosional dengan Rupiah

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 09:55 WIB
Sri Mulyani Sebut Rakyat Punya Ikatan Emosional dengan Rupiah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan masyarakat Indonesia punya kesan emosional yang tinggi dengan kondisi pergerakan rupiah, setelah krisis moneter. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan masyarakat Indonesia punya kesan emosional yang tinggi dengan kondisi pergerakan rupiah, setelah krisis moneter 20 tahun silam.

Kala itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)sempat terjun bebas dari Rp2.000 menjadi Rp15 ribu per hanya dalam kurun enam bulan saja. Perubahan drastis itu, lanjut Sri Mulyani, menimbulkan kesan mendalam bagi masyarakat Indonesia. Setiap perubahan nilai tukar berdampak psikologis bagi masyarakat.

"Pemerintah tahu depresiasi ini punya dampak efek psikologis yang khusus. Indonesia memilki sentimental reason (alasan sentimentil) tersendiri terhadap nilai tukar," jelas Sri Mulyani, Kamis malam (22/11).



Hanya saja, menurutnya, tak selamanya depresiasi rupiah berdampak buruk pada perekonomian. Ia menjelaskan ketika nilai tukar mata uang melemah, maka negara tersebut bisa menggenjot peluang ekspor yang lebih tinggi. Ini lantaran nilai produk ekspor suatu negara bisa lebih kompetitif ketika nilai tukar jatuh.

Tahun ini, ia mengakui Indonesia mengalami guncangan ketidakpastian eksternal yang luar biasa, sehingga berimbas kepada nilai tukar yang terus bergejolak.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR), depresiasi rupiah secara tahun kalender sudah menginjak 7,75 persen. Hal ini sedikit membaik ketimbang beberapa waktu lalu yang mencapai dua digit.


Depresiasi rupiah tahun ini, lanjut Sri Mulyani, bukan merupakan titik ekstrem. Hanya saja, karena urusan psikologis masyarakat, pemerintah dan otoritas moneter tentu harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan agar nilai tukar tidak kian menjadi momok.

"Karena Indonesia ada sentimental reason terhadap nilai tukar, maka sebagai policy maker kita harus sensitif dalam menjaga perasaan," imbuh Sri Mulyani.

Khusus untuk nilai tukar, ia mengakui Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar, salah satunya membenahi defisit transaksi berjalan. Berdasarkan data Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan pada kuartal III tercatat US$8,8 miliar atau mencapai 3,38 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini terus melebar dibandingkan kuartal II kemarin yang mencapai 3 persen dari PDB.


Secara teori, memupus defisit transaksi berjalan adalah dengan memperbanyak ekspor dan mengurangi impor. Namun ia mengaku realisasinya membutuhkan jibaku yang cukup berat. Salah satu instrumen fiskal yang kemarin dilancarkan demi mengurangi defisit transaksi berjalan adalah menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) 22 impor untuk 1.147 jenis barang.

"Kami tentu masih berharap momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas tetap terjaga. Caranya adalah meng-address (mengatasi) isu yang bikin instabilitas, yakni defisit transaksi berjalan," imbuh dia.

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.580 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Kamis (22/11). Posisi ini menguat 22 poin atau 0,15 persen dari kemarin sore, Rabu (21/11) di Rp14.602 per dolar AS.


Bersama rupiah, beberapa mata uang Asia turut menguat. Rupee India menguat 0,52 persen, won Korea Selatan 0,17 persen, yen Jepang 0,13 persen, dan dolar Hong Kong 0,03 persen.

Namun, ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, dolar Singapura minus 0,07 persen, peso Filipina minus 0,08 persen, renminbi China minus 0,13 persen, dan baht Thailand minus 0,28 persen. (glh/lav)