Rupiah Kekar di Tengah Pelemahan Mata Uang Asia

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 16:56 WIB
Rupiah Kekar di Tengah Pelemahan Mata Uang Asia Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.544 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (23/11) sore. Posisi ini menguat 36 poin atau 0,25 persen dari Kamis (22/11) sore kemarin yang di Rp14.580 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.552 per dolar AS atau menguat tipis dari kemarin di Rp14.592 per dolar AS.

Di kawasan Asia, penguatan rupiah menjadi yang paling tinggi dibandingkan mata uang lainnya. Ambil contoh, yen Jepang hanya menguat 0,1 persen dan dolar Hong Kong 0,04 persen.


Sedangkan mata uang Asia lainnya justru terperosok ke zona merah. Baht Thailand melemah 0,28 persen, peso Filipina minus 0,25 persen, renminbi China minus 0,19 persen, won Korea Selatan minus 0,12 persen, dan dolar Singapura minus 0,09 persen. Sementara ringgit Malaysia stagnan.


Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas rontok dari dolar AS. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,07 persen dari mata uang Negeri Paman Sam. Poundsterling Inggris melemah 0,3 persen, euro Eropa minus 0,24 persen, dolar Kanada minus 0,2 persen, dolar Australia minus 0,18 persen, dan franc Swiss minus 0,11 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah hari ini merupakan dampak kenaikan tingkat suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) yang baru terlihat.

"Hal ini terlihat dari permintaan obligasi Indonesia yang meningkat, itu berarti arus modal kencang masuk ke sini," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/11).


Dini bilang penguatan rupiah berasal dari kebijakan BI karena di saat yang bersamaan mayoritas mata uang Asia dan negara maju justru rontok dari dolar AS. Menurutnya, proyeksi perlambatan ekonomi global kembali jadi kekhawatiran negara-negara di zona Eropa.

Hal ini juga tercermin dari kondisi ekonomi masing-masing negara Eropa.

"Hal ini membuat euro Eropa melemah, sehingga dimanfaatkan sebagai sentimen penguatan dolar AS," pungkasnya.

(uli/agt)