BI akan Keluarkan Stimulus untuk UMKM dan Pariwisata di 2019

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 19:05 WIB
BI akan Keluarkan Stimulus untuk UMKM dan Pariwisata di 2019 Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya tahun depan bakal mengeluarkan kebijakan baru yang akan menjadi stimulus bagi sektor UMKM, pariwisata, dan ekspor. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) bakal mengeluarkan kebijakan baru yang akan menjadi stimulus bagi sektor Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pariwisata, dan ekspor pada tahun depan. Ketiga sektor tersebut merupakan sektor prioritas yang telah ditetapkan BI.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan yang nanti akan dikeluarkan tidak jauh berbeda dengan yang telah dilakukan bank sentral nasional untuk sektor perumahan tahun ini; kebijakan makroprudensial berupa pelonggaran rasio pinjaman (Loan to Value/LTV). Pada tahun ini, BI memberi restu pada perbankan untuk bisa memberi rasio uang muka (Down Payment/DP) hingga nol persen kepada masyarakat.

Tujuannya, guna menggenjot pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sayangnya, Perry belum mau merinci kebijakan tiga sektor itu.


"Tahun ini kami sudah kendorkan rasio LTV untuk perumahan. Tahun depan, kami akan lihat lagi instrumen kebijakan makroprudensial, misal alokasi kredit untuk mendorong sektor UMKM, pariwisata, dan ekspor," ucap Perry di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (27/11).


Perry bilang kebijakan makroprudensial kembali diambil oleh BI karena dampak dari kebijakan yang diambil tahun ini sudah mulai terasa. Dampak terlihat dari pertumbuhan kredit bank yang meroket hingga 12,7 persen pada September 2018.

Untuk itu, ia melihat kebijakan makroprudensial perlu kembali digencarkan pada tahun depan. Sebab, di sisi lain, kebijakan makroprudensial merupakan jurus bank sentral nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi selain kebijakan moneter yang juga dilakukan demi stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara tiga sektor industri itu dipilih karena mampu mewujudkan target BI ke depan, menurunkan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Targetkan CAD menyentuh 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dari posisi saat ini sekitar 3,37 persen dari PDB.

"Tapi, kami juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi, produksi dalam negeri, investasi langsung, termasuk pemanfaatan ekonomi digital," pungkasnya.

(uli/agt)